Banding Kandas, Lima Penyelundup 343 Kg Sabu Divonis Hukuman Mati

Theopini.id – Lima terdakwa kasus penyelundupan 343 kilogram (kg) Sabu, berinisial F, M, MA, AS dan ES yang telah melakukan upaya banding namun kandas, akhirnya tetap divonis hukuman mati berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

Kelimanya dinyatakan terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 tentang Narkotika Jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Majelis Hakim yang diketuai oleh Zulkifli menyatakan, kelimanya terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana melawan hukum, menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan 1 yang beratnya mencapai ratusan kilogram, sehingga mereka divonis dengan hukuman mati.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana mati dengan barang bukti berupa 24 karung yang berisikan 343 kotak plastik putih berisikan narkotika jenis sabu dengan berat seluruhnya 343,380 gram,” ujar Zulkifli dalam sidang dengan agenda pembacaan vonis kepada lima terdakwa, dikutip dari CNNIndonesia, Selasa 18 Januari 2022.

Sebelumnya, kelima terdakwa divonis pidana penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Bireuen. Namun, kelimanya tidak terima dengan putusan tersebut lalu mengajukan upaya banding pada 25 November 2021.

Sementara upaya serupa juga dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bireuen. Kepala Kejaksaan Negeri Bireuen, Mohamad Farid Rumdana menyebutkan, putusan banding itu dinilai justru memperkuat tuntutan JPU saat sidang tuntutan pada November lalu. Namun, satu terdakwa berinisial F divonis lebih tinggi dari tuntutan JPU.

Sementara terdakwa lainnya berinisial N masih menunggu putusan banding dari Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

“Jadi totalnya ada 6 terdakwa mengajukan banding, Kejari Bireuen melanjutkan atas putusan banding tersebut, JPU menyatakan sikap pikir-pikir menunggu upaya hukum selanjutnya yang akan dilakukan oleh para terdakwa,” kata dia.

Kasus itu bermula saat aparat menemukan Sabu seberat 343 kilogram di dalam kapal tanpa awak di kawasan pesisir Jeunieb, Bireuen, Aceh pada Januari 2021 lalu.

Setelah dilakukan pengembangan, para tersangka akhirnya ditangkap dalam waktu yang berbeda dari Januari hingga Maret 2021 di berbagai lokasi.***