MUI: Rapatkan Shaf Shalat Berjamaah Perlu Disesuaikan Level PPKM

PALU, theopini.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengemukakan seruan tentang rapatkan shaf shalat berjamaah perlu disesuaikan dengan level Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang tetapkan dimasing-masing daerah.

“Seruan MUI Pusat itu tentu menjadi hal yang menggembirakan, sehingga umat Islam melaksanakan ajaran Agama sesuai tuntunan Islam yang secara normatif menyebutkan rapatkan shaf shalat berjamaah,” kata Ketua MUI Kota Palu Prof Zainal Abidin yang dihubungi di Palu, Jum’at 10 Maret 2022.

Menurutnya, meski seruan ini berlaku secara umum, namun ada baiknya menyesuaikan level PPKM di masing-masing daerah, agar rumah ibadah tetap steril dari penularan COVID-19.

Sebab, setiap individu berhak menunaikan ibadah shalat di masjid. Oleh karena itu, agar penyebaran COVID-19 di daerah ini dapat terkendali dengan baik, maka umat perlu memperhatikan aspek-aspek penting dalam pencegahan.

“Artinya, orang yang masih dalam masa karantina, atau menunjukkan gejala COVID-19, sebaiknya melaksanakan shalat di rumah, ini dimaksudkan agar jamaah lain tidak terkontaminasi,” ujar Zainal.

Dia menilai, seruan MUI Pusat mengembalikan normatif shalat, karena secara umum di Indonesia situasi dan kondisi wabah sudah mulai membaik. Sehingga apa yang menjadi ketentuan dalam beribadah harus dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Apalagi sebelumnya, kondisi negara sedang dalam masa darurat akibat pandemi. Sehingga, MUI mengeluarkan fatwa mengatur jarak shalat, demi menjaga umat dari penularan penyakit saat melaksanakan ibadah.

“Perlu di sinambungkan antara seruan dan edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang masih memberlakukan kebijakan PPKM di semua daerah di tanah air. Saat ini Kota Palu masih berada di PPKM level 3,” tutur Zainal yang juga mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Palu.

Dia menambahkan, seruan ulama yang tergabung dalam wadah organisasi MUI tidak perlu diperdebatkan, dan diharapkan umat semakin dewasa menyikapi dan menerima situasi ini (pandemi).

Di satu sisi, umat jangan beranggapan fatwa dikeluarkan MUI sebagai sinyal bahwa pandemi COVID-19 sudah berakhir.

“Wabah COVID-19 masih ada, maka sepatutnya kita tetap patuh terhadap Protokol Kesehatan (Prokes) yang sudah menjadi rambu-rambu dalam melakukan upaya pencegahan dan penanganan wabah ini,” tuturnya.

Laporan : Wawa Toampo/***

banner 1280x250