PARIMO, theopini.id – Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), I Made Yastina, mengajak umat Hindu memaknai prosesi Ngaben sebagai pengingat, bahwa setiap manusia akan menghadapi kematian.
“Semua yang berdiri di sini merupakan calon mayat. Kita hanya menunggu waktu dengan cara apa Tuhan memanggil kita. Di mana dan kapan kita dipanggil, semuanya menjadi rahasia,” ujar I Made Yastina saat memberikan sambutan pada acara Ngaben Masal di Desa Kotaraya Timur, Kecamatan Mepanga, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Menurutnya, kematian merupakan kepastian yang tidak diketahui waktu dan caranya. Karena itu, ia mengajak umat memberikan doa terbaik bagi keluarga yang telah meninggal.
“Olehnya, mari bersama-sama memberikan doa terbaik. Hanya doa yang bisa kita panjatkan kepada keluarga yang telah meninggal. Uang tidak ada gunanya ketika meninggal. Jangan membakar-bakar uang, tidak boleh. Doa yang diperbanyak,” katanya.
Total jumlah umat Hindu Kabupaten Parimo, 93 ribu jiwa. Untuk itu, Made Yastina juga mengajak umat berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Masih kita dukung program pemerintah. Saya juga mengajak generasi muda membangun Parimo, supaya Kabupaten Parimo menjadi terdepan dan terbaik untuk kita semua,” ujarnya.
Umat Hindu yang tinggal di Kabupaten Parimo, kata dia, merupakan bagian dari masyarakat daerah tersebut.
Karena itu, ia mengajak umat tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah tempat tinggal.
“Hari ini kita sepakat, kita adalah orang Parimo, Sulawesi Tengah, suku Bali, beragama Hindu yang tinggal di Kabupaten Parimo. Mari banggakan Kabupaten Parimo,” tegasnya.
Dalam menjalankan tradisi, I Made Yastina mengingatkan umat untuk menyesuaikannya dengan kondisi daerah.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tidak 100 persen budaya yang ada di Bali, di kampung leluhur kita, dapat dilaksanakan di Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Parigi Moutong,” katanya.
Ia mengatakan, sejumlah kegiatan dan tradisi membutuhkan penyesuaian. Hal tersebut, menjadi pengalaman bersama agar tradisi tetap dapat dijalankan sesuai situasi dan kondisi masyarakat Parimo.
Ia juga berharap Ngaben Masal di Kotaraya dapat dilaksanakan secara rutin setiap tiga tahun melalui kesepakatan bersama.
“Bagi yang tidak mampu, silakan didata. Nanti sama-sama kita pikirkan pembiayaannya. Kami juga akan meminta dukungan pemerintah daerah,” ujarnya.
Sementara bagi umat yang mampu, ia mempersilakan pelaksanaan Ngaben dilakukan secara mandiri karena merupakan bagian dari kewajiban umat Hindu.
I Made menyebut, sepanjang 2025 terdapat sekitar 400 jenazah yang menjalani prosesi Ngaben di empat titik di Kabupaten Parimo.
Ia berharap, pelaksanaan Ngaben Masal dapat berjalan lancar serta memperkuat kebersamaan umat Hindu dalam menjalankan kewajiban keagamaan dan mendukung pembangunan daerah.
Diketahui, Ngaben Masal di Desa Kotaraya Timur, diikuti 12 jenazah. Terdiri dari lima jenazah berasal dari sejumlah desa di Kabupaten Parimo, sedangkan tujuh lainnya berasal dari Buol, Tolitoli, dan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Selain peserta Ngaben Masal, terdapat satu jenazah dari Desa Kotaraya Timur yang melaksanakan Ngaben secara pribadi.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati















