PARIMO, theopini.id – Kekeringan meteorologis dan hidrologis melanda tiga desa di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan sejak pertengahan Juni 2026.
Kondisi ini, menyebabkan ketersediaan air menurun dan mengancam sektor pertanian serta perkebunan seluas sekitar 235 hektare.
“Kekeringan masih terjadi. Debit sumber air di beberapa wilayah mengalami penurunan, sehingga masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air bersih dan lahan pertanian maupun perkebunan ikut terdampak,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai, Selasa, 25 Agustus 2026.
Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Parimo, kekeringan terjadi di Desa Persatuan Sejati, Kecamatan Ongka Malino, serta Desa Sumber Agung dan Desa Ogoyabas, Kecamatan Mepanga.
Di Desa Ogoyabas, sebanyak 150 kepala keluarga (KK) terdampak kekurangan air bersih. Kondisi tersebut, semakin sulit karena aliran air Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) terhenti.
“Masyarakat terdampak di Desa Ogoyabas saat ini mengambil air dari sungai yang debitnya juga semakin berkurang,” kata Rivai.
Dampak kekeringan juga mulai dirasakan sektor pertanian dan perkebunan. Di Desa Persatuan Sejati, sekitar 30 hektare lahan perkebunan terdampak.
Sementara di Desa Sumber Agung, Kecamatan Mepanga, sekitar 200 hektare lahan persawahan terancam gagal panen akibat kekurangan air.
Kondisi serupa terjadi di Desa Ogoyabas. Sekitar lima hektare perkebunan cengkeh terancam mengalami gagal panen.
Secara keseluruhan, luas sektor pertanian dan perkebunan yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 235 hektare.
Rivai mengatakan, BPBD Parimo bersama aparat desa telah melakukan peninjauan lokasi, koordinasi dan asesmen untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan masyarakat terdampak.
“Kita sudah melakukan peninjauan dan kaji cepat bersama aparat desa. Pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan kondisi dan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Menurutnya, kebutuhan mendesak saat ini meliputi alat dan mesin pertanian (alkon), sumur bor serta pasokan air bersih.
Ia mengatakan, penanganan kekeringan membutuhkan dukungan berbagai pihak mengingat kondisi sumber air terus mengalami penurunan.
Hingga Selasa, 25 Agustus 2026, kekeringan masih melanda tiga desa tersebut. BPBD Parimo bersama aparat desa dan masyarakat terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
BPBD Parimo juga masih melakukan pendataan terhadap dampak kekeringan, terutama terhadap kebutuhan air bersih dan sektor pertanian serta perkebunan yang berpotensi mengalami kerugian lebih besar apabila kondisi tanpa hujan terus berlangsung.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati












