PARIMO, theopini.id — Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, berencana membangun rumah singgah bagi anak-anak dari wilayah terpencil, untuk mengatasi kendala akses pendidikan akibat jarak sekolah yang jauh dan kondisi jalan yang memprihatinkan.
“Ke depan, pemerintah daerah akan membangun rumah singgah bagi anak yang berasal dari daerah terpencil. Sehingga mereka tidak harus bolak-balik ke desanya, karena letak geografisnya sangat jauh dan kondisi jalannya cukup memprihatinkan,” kata Bupati Parimo, H. Erwin Burase saat menghadiri kegiatan jalan santai bertema Gerakan Bersama Kembali Anak Bersekolah di Parigi, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia mengatakan, jarak tempat tinggal ke sekolah menjadi salah satu penyebab anak tidak bersekolah di Kabupaten Parimo.
Persoalan itu, ditemukan berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, terutama di wilayah dengan akses pendidikan yang terbatas.
Data pemerintah daerah menunjukkan, jumlah anak tidak sekolah (ATS) terbesar berada di tiga kecamatan, yakni Tinombo, Tomini, dan Palasa.
Selain terkendala jarak, sebagian anak juga tidak melanjutkan pendidikan setelah tamat sekolah dasar (SD) karena lokasi sekolah menengah pertama (SMP) yang jauh dari tempat tinggal mereka.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah telah menyampaikan usulan pembangunan Sekolah Satu Atap (Satap) kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen).
“Pengusulan itu telah direspons oleh Pak Menteri, yang berjanji membangun Satap di daerah-daerah terpencil,” ujarnya.
Upaya memperluas akses pendidikan itu dilakukan di tengah tingginya angka ATS di Kabupaten Parimo. Berdasarkan data 2025, kabupaten tersebut tercatat memiliki 13.226 anak tidak sekolah, tertinggi di Sulawesi Tengah.
Erwin mengatakan, setelah mengetahui angka tersebut, pemerintah daerah membentuk tim untuk menelusuri penyebab dan mempercepat penanganan ATS. Melalui upaya tersebut, lebih dari 2.000 anak berhasil dikembalikan ke bangku pendidikan.
Atas capaian itu, Parimo mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah karena dinilai berhasil menurunkan angka ATS dengan cepat.
Meski demikian, ia meminta jajarannya melanjutkan penanganan melalui pendataan by name by address dan turun langsung ke lapangan untuk memastikan anak-anak yang belum bersekolah dapat kembali mengakses pendidikan.
“Saya juga mengapresiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parimo yang telah menginisiasi kegiatan jalan santai kampanye penanganan ATS ini,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News














