PARIMO, theopini.id – Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah menggelar Lokakarya I Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak Tahun 2026–2029.
“Penurunan angka kematian ibu dan anak merupakan bagian penting dari pembangunan manusia dan peningkatan kualitas pelayanan dasar di Kabupaten Parigi Moutong,” kata Kepala Bidang Sosial dan Budaya Bappelitbangda Parimo, Irdan dalam laporannya di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati Parimo, Senin, 2 November 2o26.
Ia menjelaskan, kematian ibu, bayi, dan anak tidak hanya dipengaruhi faktor medis, tetapi juga berbagai faktor nonmedis.
Di antaranya kondisi ibu dan remaja, status gizi, akses dan mutu pelayanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi, lingkungan, sanitasi, hingga efektivitas sistem rujukan.
Menurutnya, keterlambatan pengambilan keputusan, keterlambatan mencapai fasilitas kesehatan, serta keterlambatan memperoleh pelayanan yang sesuai juga menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya menekan angka kematian ibu dan anak.
Irdan menyebut, penyusunan RAD diharapkan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam merencanakan, menganggarkan, serta melaksanakan program penurunan kematian ibu dan anak secara terukur dan berbasis data.
Lokakarya I tersebut, diarahkan untuk memetakan situasi penyebab kematian dan mengidentifikasi isu strategis kesehatan ibu dan anak di Parimo.
Selain itu, menetapkan sasaran, arah kebijakan, strategi, serta indikator daerah yang selaras dengan indikator nasional.
“Melalui penyusunan dokumen ini, kita ingin memperjelas peran setiap OPD, pemerintah desa dan mitra nonpemerintah, sekaligus memastikan intervensi kunci masuk ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, dokumen RAD juga akan memuat fokus intervensi berdasarkan siklus hidup, termasuk langkah afirmasi bagi masyarakat di wilayah sulit akses dan kelompok rentan.
Penguatan kualitas data, pemantauan, evaluasi, serta pelaporan secara berjenjang ke pemerintah provinsi turut menjadi bagian dari sasaran penyusunan dokumen tersebut.
Kegiatan ini, diikuti 123 peserta dari unsur organisasi perangkat daerah (OPD), kepala bidang dan pejabat fungsional OPD teknis, TP-PKK, BPS, Rumah Sehat Baznas, organisasi profesi kesehatan, camat, puskesmas, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
“Melalui lokakarya ini, kami berharap terbangun komitmen, dukungan, dan keterlibatan seluruh sektor dalam merumuskan langkah bersama untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Parimo,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News














