Pemerataan Akses Jadi Tantangan Wajib Belajar 13 Tahun di Parimo

PARIMO, theopini.id — Kebijakan nasional wajib belajar 13 tahun, mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius memastikan akses pendidikan hingga pelosok.

Di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, keterbatasan fasilitas dan jarak antarsekolah masih menjadi kendala utama bagi anak-anak di wilayah terpencil.

Baca Juga: Idah Syahidah: Pembangunan SMA 8 Gorontalo Mendesak untuk Pemerataan Pendidikan

“Selama ini anak di pegunungan kesulitan masuk PAUD, jadi menunggu usia cukup baru masuk SD. Karena yang ada hanya SD, banyak yang tidak melanjutkan ke SMP. Anak-anak tidak mampu jalan jauh ke sekolah, dan ini penyebab putus sekolah,” ujar Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo,Sunarti di Parigi, Selasa, 14 Oktober 2025.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) Parimo mengusulkan pembangunan Sekolah Terpadu di lima titik wilayah terpencil kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Konsep sekolah terpadu ini, akan menggabungkan layanan pendidikan dari tingkat PAUD, SD, hingga SMP dalam satu kawasan.

“Pembangunan sekolah terpadu ini adalah solusi agar anak-anak di daerah sulit tetap bisa menyelesaikan pendidikan 13 tahun tanpa harus menempuh jarak jauh,” jelas Sunarti.

Usulan tersebut, merupakan tindak lanjut hasil audiensi Bupati Parimo, H Erwin Burase, bersama Menteri dan para Dirjen di Kemendikdasmen.

Kemendikdasmen, disebut memberikan respons positif terhadap gagasan tersebut dan meminta proposal resmi segera diserahkan.

“Kementerian merespons bagus program yang digagas oleh Bupati Parimo untuk meningkatkan pelayanan dan aksesibilitas pendidikan. Proposalnya sudah ditandatangani dan akan diserahkan langsung ke Dirjen Dikdasmen pekan depan,” tambahnya.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Sekolah Rakyat, Jalan Panjang Pemerataan Pendidikan Mulai Ditempuh

Menurut Sunarti, pemerintah daerah menaruh harapan besar pada dukungan pusat melalui program revitalisasi dan digitalisasi pendidikan. Dengan begitu, fasilitas pendidikan di wilayah pedalaman dapat terpenuhi secara merata.

“Sekolah terpadu ini nantinya bukan hanya bangunan, tapi bagian dari strategi besar pemerataan pendidikan agar tidak ada lagi anak putus sekolah di Kabupaten Parimo,” pungkasnya.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar