PARIMO, theopini.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menggeser alat berat dari lokasi banjir bandang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, untuk mempercepat penanganan dampak banjir di Kecamatan Kasimbar.
Penanganan difokuskan pada normalisasi sungai, pembersihan material, serta pemulihan akses dan layanan dasar masyarakat di sejumlah wilayah terdampak.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai, mengatakan penanganan di Kecamatan Kasimbar dilakukan bersama instansi terkait. Sementara pembersihan jalur Trans Sulawesi dan penanganan jembatan menjadi kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah.
“Kalau Kasimbar, untuk jalan Trans Sulawesi sendiri sudah dari BPJN sementara melakukan pembersihan. Kemudian jembatan darurat juga sudah terpasang,” kata Rivai saat ditemui di Posko Bencana Desa Avolua, Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurut Rivai, setelah penanganan di Avolua mulai memasuki tahap akhir, alat berat yang sebelumnya digunakan di lokasi tersebut digeser ke wilayah Kasimbar untuk mendukung normalisasi sungai.
Salah satunya di Desa Labuan Donggulu, Kecamatan Kasimbar, yang membutuhkan penanganan aliran sungai akibat dampak banjir.
“Alat di sini (Desa Avolua) kami geser ke Labuan Donggulu untuk melakukan normalisasi sungai,” ujarnya.
Selain Labuan Donggulu, BPBD Parimo juga melakukan koordinasi untuk menangani sejumlah sungai yang terdampak banjir di wilayah Kasimbar dan sekitarnya.
Penanganan dilakukan secara bertaha, dengan menyesuaikan tingkat kerusakan serta kebutuhan di masing-masing lokasi.
Rivai mengatakan, untuk Sungai Laemanta Induk, pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendukung proses normalisasi dan melakukan pemasangan bronjong.
“Untuk Sungai Laemanta Induk, insyaallah kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka akan masuk melakukan normalisasi dengan pemasangan bronjong,” jelasnya.
Sementara untuk Sungai Laemanta Utara, penanganan membutuhkan geobag. BPBD Parimo telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) terkait kebutuhan tersebut.
“Untuk Sungai Laemanta Utara memerlukan geobag. Itu sudah kami koordinasikan dengan BWS dan kalau sudah ada, tinggal kami pasang,” lanjut Rivai.
Di sisi lain, persoalan air bersih menjadi salah satu kebutuhan mendesak masyarakat di Desa Laemanta Induk dan Peningka. Jaringan air minum di kedua wilayah tersebut mengalami gangguan akibat terdampak banjir.
Untuk itu, BPBD Parimo menyiapkan dukungan tangki air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sembari menunggu jaringan air bersih kembali berfungsi.
“Kami sudah kirim dua tangki. Yang dari PMI kami arahkan ke Desa Laemanta, kemudian dari BPBD provinsi kami usulkan untuk Peningka,” kata Rivai.
Menurutnya, petugas BPBD Parimo juga melakukan pengecekan terhadap jalur jaringan air bersih hingga ke bagian hulu untuk mengetahui titik kerusakan dan menentukan langkah perbaikan.
“Anggota kami juga sementara naik ke atas untuk melihat jalurnya. Kami lihat di mana jalurnya, setelah itu tinggal kami lakukan penanganan,” ujarnya.
Rivai mengatakan, tingkat kerusakan jaringan air bersih berbeda di setiap wilayah. Jika kerusakan hanya berupa pipa yang terputus, perbaikan dapat dilakukan dengan mengganti bagian jaringan yang rusak.
“Kalau cuma putus-putus biasa, kami bisa perbaiki dan ganti pipanya,” jelasnya.
BPBD Parimo memastikan penanganan di wilayah terdampak terus dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan kebutuhan paling mendesak, terutama pemulihan akses, normalisasi sungai, dan penyediaan air bersih.
Rivai mengatakan, kebutuhan penanganan juga telah dilaporkan kepada BNPB dan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendapatkan dukungan tambahan.
“Kami sudah kirim laporan ke BPBD. Jadi tinggal menunggu respons dari mereka. Kami juga sudah melaporkan ke BPBD provinsi,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News
















