BANGGAI, theopini.id – Kabupaten Banggai menempati urutan kedua kasus HIV/AIDS tertinggi di Sulawesi Tengah. Hingga Mei 2026, tercatat 601 kasus HIV dan 385 kasus AIDS, dengan 130 orang meninggal dunia.
“Data ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa persoalan HIV/AIDS tidak hanya menyangkut kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan masa depan generasi muda, keluarga, pendidikan, produktivitas, dan pembangunan daerah,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Banggai, Furqanuddin Masulili, dalam sambutannya.
Pemerintah Daerah (Pemda) Banggai melalui Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten (KPAK) merespons kondisi tersebut, dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS.
Penguatan kolaborasi itu, dibahas dalam Pertemuan Penguatan Kolaborasi Pengendalian HIV/AIDS Tahun 2026 yang digelar di Aula Penginapan Lambuku Syariah, Luwuk, Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan tersebut, melibatkan 70 peserta yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, organisasi kemasyarakatan (ormas) dan komunitas. Pertemuan mengangkat tema “Peran Penting Para Pemangku Kepentingan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Ormas dan Komunitas Dalam Rangka Pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Banggai.”
Dalam laporan Ketua Panitia Nurul Indah Dalillah disebutkan, HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan.
Merujuk data Kementerian Kesehatan RI hingga Juli 2024, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan sebanyak 351.378 jiwa dari estimasi 503.261 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 217.482 ODHA telah menjalani terapi antiretroviral (ART).
Sementara di Sulawesi Tengah, kumulatif kasus sejak 2002 hingga September 2025 tercatat sebanyak 6.811 kasus, terdiri dari 5.123 kasus HIV dan 1.688 kasus AIDS.
Wabup Furqanuddin menegaskan, pertemuan tersebut tidak sekadar membahas data dan angka, tetapi merupakan bentuk kepedulian serta komitmen bersama untuk melindungi masyarakat dan menyelamatkan generasi muda.
Menurutnya, HIV/AIDS bukan hanya menjadi urusan Dinas Kesehatan, tetapi persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi keagamaan, kepemudaan, media, tenaga kesehatan, keluarga dan seluruh elemen masyarakat.
Dalam arahannya, Furqanuddin meminta penanganan HIV/AIDS mengedepankan pencegahan, edukasi, deteksi dini, pengobatan, pendampingan, serta penghapusan stigma dan diskriminasi.
“Masyarakat yang hidup dengan HIV/AIDS jangan dikucilkan. Mereka membutuhkan dukungan untuk mendapatkan pengobatan dan menjalani kehidupan secara produktif. Jangan sampai karena stigma dan diskriminasi, seseorang takut melakukan pemeriksaan dan memilih menyembunyikan kondisinya sehingga justru meningkatkan risiko penularan,” tegasnya.
Pemda Banggai juga berkomitmen mengejar target Three Zeroes pada 2030, yakni tidak ada infeksi HIV baru, tidak ada kematian akibat AIDS, serta tidak ada stigma dan diskriminasi.
“Target tersebut hanya dapat kita capai melalui kolaborasi yang kuat, kerja nyata dan komitmen bersama,” tambahnya.
Pertemuan tersebut juga diisi motivasi peran tokoh lintas sektor oleh Masudin Radjamaulu, S.ST., M.Kes., serta materi kebijakan dan situasi kasus HIV/AIDS dan penguatan kelembagaan KPA serta rencana aksi daerah oleh KPAK Banggai.
Kegiatan diakhiri dengan ajakan kepada generasi muda untuk menjaga diri, pergaulan dan kesehatan. Masyarakat juga diajak memberikan dukungan kepada orang yang hidup dengan HIV/AIDS serta tidak melakukan stigma maupun diskriminasi.
“Karena melawan HIV/AIDS bukan dengan stigma, tetapi dengan pengetahuan, kepedulian, pelayanan dan kebersamaan,” pungkas Furqanuddin.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Helmi Liana















