PARIMO, theopini.id – Ketepatan pengukuran pertumbuhan bayi dan balita di sejumlah Posyandu di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, masih menghadapi tantangan. Penggunaan alat ukur yang belum memenuhi standar, dan pergantian kader menjadi perhatian dalam pendampingan program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II.
“Pemantauan pertumbuhan bukan hanya soal menimbang dan mengukur, tetapi bagaimana memastikan hasil pengukuran benar sehingga kondisi anak dapat diketahui secara tepat dan ditindaklanjuti,” kata Ketua Tim INEY Kecamatan Ampibabo, Putu Candriasih, SST., M.Kes., saat pendampingan di Posyandu Melati Tombi, Desa Tombi dan Posyandu Sayang Ibu, Desa Paranggi, 9–10 September 2026.
Pendampingan yang dilakukan tim INEY Poltekkes Kemenkes Palu bersama Dinas Kesehatan Parimo, dan Puskesmas wilayah kerja menemukan adanya hasil pengukuran yang membias di Kecamatan Ampibabo.
Meski teknik pengukuran yang dilakukan kader pada dasarnya sudah benar, penggunaan alat yang belum memenuhi standar dinilai dapat memengaruhi ketepatan hasil pengukuran.
Selain persoalan alat, pergantian kader yang berlangsung secara silih berganti juga menjadi tantangan. Kondisi ini dinilai membutuhkan penyegaran dan pelatihan kembali agar kemampuan kader dalam melakukan pengukuran dan pencatatan tetap terjaga.
Putu Candriasih mengatakan, kader perlu memahami teknik pengukuran yang benar karena hasil pengukuran menjadi dasar untuk mengetahui kondisi pertumbuhan anak dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
“Karena itu, kader perlu memahami cara pengukuran yang benar dan terus memberikan edukasi kepada orang tua mengenai tumbuh kembang anak serta pencegahan stunting,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut atas temuan tersebut, Pemerintah Desa Tombi menyatakan komitmennya memenuhi kebutuhan alat ukur Posyandu melalui dukungan Dana Desa.
Komitmen tersebut dinilai penting untuk memastikan proses pemantauan pertumbuhan di tingkat Posyandu didukung peralatan yang sesuai, sehingga data yang dihasilkan lebih akurat dan dapat menjadi dasar intervensi terhadap anak yang mengalami masalah pertumbuhan maupun gizi.
Dalam pendampingan di Kecamatan Ampibabo, tim INEY juga memberikan edukasi kepada kader dan masyarakat mengenai tumbuh kembang balita, pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pencegahan stunting, serta teknik pengukuran yang tepat.
Sementara di Kecamatan Siniu, pendampingan pada 8–9 September 2026 dilakukan di Posyandu Melati, Desa Marantale, dan SMKN 1 Siniu. Tim yang dipimpin Wery Aslinda, S.Si., M.Si., bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas, turut menyoroti tindak lanjut terhadap bayi dan balita yang mengalami masalah gizi.
Wery menekankan intervensi terhadap anak dengan gizi buruk, gizi kurang maupun stunting perlu dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan hingga kondisi anak membaik.
Penguatan juga dilakukan melalui edukasi kepada Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader Posyandu dan petugas Puskesmas, termasuk mengenai pola asuh yang perlu menjadi bagian dari edukasi kepada keluarga.
Selain pemantauan balita, tim INEY di Siniu memberikan edukasi kepada remaja putri di SMKN 1 Siniu mengenai pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi sejak sebelum memasuki masa kehamilan.
Program INEY Fase II sendiri diarahkan untuk memperkuat intervensi gizi spesifik bagi kelompok prioritas, yakni remaja putri, ibu hamil, baduta dan balita.
Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan kader serta memastikan hasil pemantauan pertumbuhan dapat ditindaklanjuti secara tepat.
Temuan di lapangan tersebut, menjadi bahan evaluasi bersama agar pemantauan pertumbuhan tidak berhenti pada kegiatan menimbang dan mengukur, tetapi menghasilkan data yang akurat serta diikuti intervensi bagi anak yang membutuhkan.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati















