PARIMO, theopini.id — Sebanyak 77.013 keluarga di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, tercatat sebagai keluarga berisiko stunting. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.105 keluarga belum memiliki jamban yang layak.
Ketua Tim Pengendali Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Kabupaten Parimo, Kartikowati mengatakan, angka 77.013 tersebut merupakan jumlah keluarga berisiko stunting yang tersebar di 23 kecamatan.
“Ini keluarga yang berisiko stunting, bukan anak stunting. Jadi keluarga yang belum tentu memiliki anak stunting, tetapi memang sudah berisiko stunting,” kata Kartikowati saat menyampaikan laporan pelaksanaan sosialsasi GENTING di Lantai II Kantor Bupati Parimo, Selasa, 6 Oktober 2026.
Dari total 77.013 keluarga berisiko stunting tersebut, kata dia, terdapat sekitar 5.478 keluarga yang tidak memiliki sumber air minum layak.
Sementara persoalan sanitasi tercatat lebih besar. Sebanyak 16.105 keluarga berisiko stunting tidak memiliki jamban yang layak.
Menurut Kartikowati, pembangunan jamban dan penyediaan akses air minum layak merupakan bagian dari intervensi non-nutrisi dalam pelaksanaan program GENTING.
Selain intervensi non-nutrisi, GENTING juga mencakup intervensi edukasi dan pendampingan keluarga yang dilakukan oleh kader Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Untuk intervensi nutrisi, program tersebut menyasar kelompok yang rentan terhadap stunting, yakni ibu hamil, bayi di bawah dua tahun (baduta), dan balita.
Kartikowati menegaskan, pelaksanaan GENTING membutuhkan kerja sama dan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, kata dia, tidak dapat bekerja sendiri, tetapi membutuhkan dukungan perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, tenaga kesehatan, kader, dunia usaha, organisasi masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap, pelaksanaan GENTING tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat gerakan bersama dalam mencegah stunting.
“Kami mengajak seluruh peserta yang hadir pada hari ini bersama-sama mengambil peran sesuai dengan tugas dan kapasitas masing-masing untuk menjadi orang tua asuh cegah stunting,” ujarnya.
Kartikowati menyebut, salah satu bentuk intervensi yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pembangunan jamban layak bagi keluarga berisiko stunting.
“Berdasarkan data yang kami miliki tadi, masih 16 ribu lebih keluarga berisiko stunting yang belum memiliki jamban,” katanya.
Ia mengajak pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat dan para mitra untuk mengambil bagian dalam pembangunan jamban sesuai kemampuan masing-masing.
“Satu jamban yang kita bantu bangunkan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi satu keluarga itu dapat menjadi bagian terpenting dalam upaya pencegahan stunting dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” ujarnya.
Untuk memperkuat pelaksanaan GENTING, Tim Pengendali juga akan meningkatkan koordinasi dengan seluruh perangkat daerah terkait serta memastikan pemutakhiran data keluarga berisiko stunting secara berkala.
Selain itu, pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa didorong melakukan pemantauan terhadap sasaran keluarga berisiko stunting.
Intervensi juga akan dioptimalkan sesuai kebutuhan masing-masing sasaran, dengan meningkatkan keterlibatan mitra kerja dan masyarakat.
Tim Pengendali GENTING juga akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala serta melaporkan perkembangan pelaksanaan program kepada pimpinan daerah, sebagai bahan evaluasi dan pengambilan kebijakan.
Kartikowati berharap dukungan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Parimo dapat memperkuat pelaksanaan GENTING agar berjalan konsisten dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pelaksanaan GENTING di Kabupaten Parimo diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi lintas sektor, terutama dalam menangani keluarga yang masuk kategori berisiko stunting serta meningkatkan akses terhadap sanitasi dan air minum layak.
Baca berita lainnya di lainnya di Google News
















