Tragedi Rinjani Ungkap Celah Pengawasan Operator Wisata Ekstrem

JAKARTA, theopini.id Tragedi yang menimpa wisatawan asal Brasil, Juliana Marins (26), di Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi sorotan serius atas lemahnya pengawasan terhadap operator wisata ekstrem.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun mendesak, adanya evaluasi ketat terhadap seluruh operator pendakian demi mencegah insiden serupa.

Baca Juga: Disporapar Parimo Klaim Jumlah Wisatawan Meningkat Selama Libur 17 Agustus 2024

“Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Pengawasan terhadap operator wisata ekstrem tidak boleh lagi setengah-setengah. Keselamatan wisatawan adalah prioritas utama,” tegas Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, dalam konferensi pers, Sabtu, 28 Juni 2025.

Juliana dilaporkan terjatuh ke jurang sedalam 600 meter pada Sabtu, 21 Juni 2025 saat mendaki di kawasan Gunung Rinjani.

Setelah pencarian selama empat hari, jenazahnya ditemukan pada Selasa, 24 Juni 2025 dan berhasil dievakuasi keesokan harinya meski menghadapi medan ekstrem dan cuaca buruk.

“Kami turut berduka cita atas kejadian ini. Namun lebih dari itu, ini menjadi pengingat bahwa SOP tidak boleh hanya menjadi dokumen administratif tanpa pengawasan nyata di lapangan,” tegasnya.

Menurut Widiyanti, Kementerian tidak hanya kembali mengingatkan soal kewajiban mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) Pendakian, tetapi juga menuntut adanya audit menyeluruh terhadap seluruh penyelenggara wisata ekstrem di kawasan tersebut.

“Harus ada audit mendalam. Operator yang tidak memenuhi standar harus segera dibekukan izinnya. Kami tidak ingin ada korban berikutnya,” ujarnya.

Kementerian Pariwisata juga mendorong kolaborasi lintas lembaga seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Basarnas, TNI/Polri, dan BPBD untuk memperketat pengawasan.

Di saat yang sama, edukasi kepada wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara, juga menjadi sorotan. Banyak dari mereka yang belum memahami pentingnya memilih operator resmi dan pemandu bersertifikat.

“Kami imbau semua wisatawan, apalagi yang sedang berlibur pada musim liburan sekolah ini, untuk tidak tergiur dengan harga murah dari operator tidak resmi. Nyawa jauh lebih berharga,” katanya.

Baca Juga: Kejuaraan Paralayang Bangkitkan Sektor Pariwisata di Parimo

Selain itu, masyarakat diminta proaktif melaporkan jika menemukan pelanggaran di lapangan melalui nomor WhatsApp pengaduan 0811-895-6767.

“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Ini momentum bagi kita semua untuk benar-benar menegakkan standar keselamatan, tidak hanya di atas kertas, tetapi di medan yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar