JAKARTA, theopini.id – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, mendorong penguatan kerja sama Indonesia–Tiongkok sebagai langkah strategis untuk mempercepat pengentasan daerah tertinggal.
“Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama bilateral Indonesia-Tiongkok di bidang pembangunan perdesaan dan pengentasan kemiskinan,” ujar Yandri saat menerima audiensi Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, di Jakarta, Rabu, 15 April 2026.
Ia menegaskan, kerja sama bilateral tidak lagi berfokus pada bantuan semata, tetapi diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, serta penciptaan lapangan kerja di wilayah tertinggal.
Menurutnya, pendekatan ini penting untuk menekan kesenjangan pembangunan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa secara berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, Yandri juga menyoroti pentingnya penyesuaian kerja sama seiring perubahan nomenklatur kementerian, dari sebelumnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menjadi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Ia menilai, penyesuaian ini diperlukan untuk meningkatkan efektivitas birokrasi serta memperkuat koordinasi antarlembaga dalam pelaksanaan program.
Selain itu, penyusunan rencana kerja konkret menjadi perhatian utama agar kerja sama yang dijalankan memiliki arah yang jelas dan terukur.
Yandri menyebut, program 12 Aksi Bangun Desa menjadi salah satu fokus yang dapat dikolaborasikan, termasuk pengembangan desa tematik, desa ekspor, dan desa wisata.
“Penyusunan dokumen turunan berupa Plan of Action penting sebagai dasar implementasi kerja sama yang lebih konkret,” tambahnya.
Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap potensi lokal di desa dapat dioptimalkan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi desa terhadap perekonomian nasional.
Baca berita lainnya di Google News

Komentar