PARIMO, theopini.id – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Hj Hestiwati Nanga, optimistis keterampilan membuat Ecoprint dapat menjadi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga.
Menurutnya, produk berbasis pewarna alami itu memiliki nilai ekonomi tinggi, apabila dikembangkan secara serius dan dipadukan dengan kekayaan budaya lokal Kabupaten Parimo.
“Saya yakin Ecoprint ini kalau betul-betul ditekuni akan menjanjikan dari segi pendapatan. Saya sendiri kewalahan menerima pesanan kain Bomba Saga,” kata Hestiwati, saat membuka secara resmi Pelatihan Kewirausahaan Hijau Ecoprint yang diselenggarakan Pokja III TP-PKK Kabupaten Parimo di Gedung PNF Songulara SKB, Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia mengatakan, pelatihan tersebut tidak sekadar memberikan keterampilan baru kepada kader PKK, tetapi juga diharapkan mampu melahirkan produk unggulan yang memiliki nilai jual, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Menurut Hestiwati, sejak awal dirinya telah meminta seluruh ketua bidang, maupun ketua kelompok kerja (Pokja) agar setiap kegiatan TP-PKK dirancang menjadi program unggulan yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan Pokja III. Jangan sampai kegiatan hanya selesai pada pelaksanaannya, tetapi harus memiliki output yang jelas dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengembangan Ecoprint di Kabupaten Parimo sebaiknya tidak hanya mengikuti motif yang sudah umum digunakan, melainkan memanfaatkan kekayaan hayati dan budaya lokal sebagai identitas produk.
Hestiwati mencontohkan Sambulugana atau Saga, yang menjadi salah satu motif khas Kabupaten Parimo. Motif tersebut, terinspirasi dari unsur daun pinang, daun sirih, dan tembakau yang memiliki nilai filosofi dalam kehidupan masyarakat setempat.
“Selama ini, Ecoprint lebih banyak menggunakan motif bunga. Padahal kita memiliki ciri khas sendiri, yakni Sambulugana. Saya berharap narasumber juga memperkenalkan kekhasan itu, agar produk Ecoprint kita memiliki identitas yang berbeda,” tuturnya.
Ia menilai, perpaduan antara teknik Ecoprint dengan motif khas daerah akan menjadi daya tarik tersendiri di pasar, sekaligus memperluas peluang usaha bagi kader PKK maupun pelaku UMKM.
Selain mengembangkan keterampilan, Hestiwati juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan program.
Menurutnya, setiap kegiatan yang dibiayai melalui dana hibah harus menghasilkan manfaat yang dapat diukur, sehingga layak untuk terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya.
“Kalau nanti program ini kita lanjutkan, tentu yang pertama kita lihat adalah hasilnya. Apakah ada manfaatnya, apakah benar bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Saya yakin peluang itu ada kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Melalui pelatihan tersebut, TP-PKK Parimo berharap kader PKK tidak hanya mampu menghasilkan produk Ecoprint yang bernilai ekonomi, tetapi juga ikut melestarikan identitas budaya daerah melalui pengembangan kain khas Bomba Saga sebagai produk unggulan Kabupaten Parimo.
Baca berita lainnya di Google News















