PARIMO, theopini.id – Bantuan Program Revitalisasi Sekolah untuk 97 satuan pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, tidak diberikan dalam bentuk pekerjaan yang sama. Jenis intervensi ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah, dengan mengacu pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
“Kalau kita berbicara sekolahnya, setiap sekolah itu memiliki item bantuan yang berbeda-beda. Tergantung situasi, kondisi dan kebutuhan di sekolah masing-masing,” jelas Kepala Bidang Manajemen SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo, Ibrahim dihubungi via WhatsApp, Senin, 7 September 2026.
Ia menjelaskan, program tersebut memprioritaskan rehabilitasi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat. Ruang kelas menjadi salah satu fasilitas yang diprioritaskan.
Selain ruang kelas, bantuan dapat mencakup pembangunan jamban atau toilet, perpustakaan, ruang administrasi, ruang guru, ruang kepala sekolah hingga ruang UKS, sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
Penentuan jenis pekerjaan mengacu pada data Dapodik, yang kemudian disesuaikan dengan kondisi faktual di lapangan. Pemerintah mempertimbangkan luas lahan, bangunan yang telah tersedia, jumlah siswa serta fasilitas yang sudah dimiliki.
“Misalnya dalam Dapodik tercatat luas tanah 5.000 meter persegi, kemudian bangunan yang sudah ada 3.000 meter persegi. Berarti masih ada lahan 2.000 meter persegi. Dari situ dilihat apa yang layak dibangun dan apakah lahannya masih mencukupi,” katanya.
Dengan pertimbangan tersebut, sekolah yang telah memiliki fasilitas tertentu dalam kondisi baik tidak menjadi prioritas untuk pembangunan baru. Bantuan diarahkan pada sarana yang belum tersedia atau membutuhkan rehabilitasi.
Jumlah siswa juga menjadi salah satu dasar penentuan kebutuhan ruang. Sekolah dengan peserta didik yang relatif sedikit tidak selalu membutuhkan pembangunan ruang dalam jumlah banyak.
Untuk sekolah dengan jumlah siswa di bawah 60 orang, misalnya, ruang kelas yang tersedia dapat disekat agar kapasitas ruang belajar menyesuaikan kebutuhan.
“Misalnya ada tiga ruang kelas yang diperbaiki, kemudian disekat sehingga bisa menjadi enam ruang kelas. Jadi disesuaikan dengan jumlah siswa dan kondisi sekolah,” jelas Ibrahim.
Program revitalisasi juga mencakup penataan lingkungan sekolah. Pekerjaan dapat meliputi penataan taman dan halaman upacara, pemasangan paving, pembangunan pagar depan atau gapura, serta pembenahan saluran air untuk mencegah genangan.
Ibrahim menambahkan, daftar penerima juga mencakup sejumlah sekolah yang sebelumnya menjadi perhatian publik karena kondisi bangunan maupun akses pendidikan yang memprihatinkan.
Di antaranya, sekolah yang sempat viral karena siswa harus menyeberangi sungai untuk menuju sekolah dan sekolah yang melakukan perbaikan sarana secara swadaya.
SDK Ogomojolo juga masuk dalam daftar penerima, setelah kondisi bangunannya yang masih darurat mendapat perhatian melalui media sosial.
“97 sekolah ini, termasuk dua sekolah yang viral di media sosial kemarin,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, perbedaan kondisi setiap satuan pendidikan membuat bentuk intervensi pada 97 sekolah penerima tidak seragam. Kebutuhan masing-masing sekolah menjadi dasar dalam menentukan pekerjaan yang akan dilakukan.
“Jadi 97 sekolah ini jenis bantuannya berbeda-beda. Tergantung situasi, kondisi, kebutuhan dan fasilitas yang sudah ada di sekolah masing-masing,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati














