PALU, theopini.id – Petugas layanan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan psikologis dalam menjalankan tugas pendampingan korban.
Hal itu, menjadi perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Sigi melalui Pelatihan Trauma Healing dan Manajemen Stres bagi Petugas Layanan Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tingkat Kabupaten Sigi di Kota Palu, Senin, 21 September 2026.
“Petugas layanan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus mampu memahami kondisi psikologis korban dan menjaga kesehatan mental dirinya sendiri. Melalui pelatihan ini, diharapkan para petugas semakin profesional, empatik, dan mampu memberikan pendampingan yang aman serta tepat kepada perempuan dan anak,” ujar Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sigi, Sutopo Sapto Tjondro.
Menurutnya, proses pendampingan korban kekerasan menghadapkan petugas pada berbagai situasi psikologis yang membutuhkan kesiapan dan kemampuan pengelolaan stres.
Karena itu, peningkatan kapasitas petugas menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas layanan perlindungan perempuan dan anak.
Ia mengatakan, penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak juga membutuhkan sinergi antara pemerintah, petugas layanan dan masyarakat.
Penguatan sumber daya manusia serta koordinasi lintas sektor diperlukan, agar sistem pencegahan dan penanganan kekerasan dapat berjalan secara optimal.
“Pemerintah Kabupaten Sigi berkomitmen untuk terus memperkuat upaya perlindungan perempuan dan anak melalui peningkatan kapasitas petugas serta penguatan koordinasi lintas sektor, sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan yang cepat, tepat, dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala DPPPA Kabupaten Sigi, Noviani Trisye Koruwu, mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya membekali petugas dalam memahami trauma yang dialami korban, tetapi juga kemampuan mengelola stres yang dapat muncul selama menjalankan tugas pendampingan.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan para petugas memiliki kemampuan yang memadai dalam memberikan layanan kepada korban kekerasan, sekaligus mampu mengelola stres dan menjaga kondisi psikologisnya agar tetap optimal dalam menjalankan tugas,” jelasnya.
Noviani berharap materi dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam pelayanan di lapangan, sehingga kualitas pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sigi semakin kuat.
“Kami berharap peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan baik dan membawa pengetahuan tersebut ke dalam praktik pelayanan. Dengan petugas yang semakin kompeten dan memiliki ketahanan psikologis yang baik, kita dapat bersama-sama mewujudkan layanan perlindungan perempuan dan anak yang lebih responsif, humanis, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Indah Nurrahma Safira












