PARIMO, theopini.id — Bappelitbangda Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mulai memetakan wilayah prioritas penanganan kematian ibu dan anak, sebagai bagian dari penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak.
“Kita susun RAD ini dengan dua sumber data. Secara kuantitatif kita pakai aplikasi dan data dari puskesmas, tetapi kita juga melalui secara kualitatif. Kita lakukan itu sehingga sebenarnya persoalan yang ada di sana bisa kita dapatkan,” jelas Kepala Bidang Sosial Budaya Bappelitbangda Parimo, Irdan, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 6 November 2026.
Ia menjelaskan, pemetaan dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memastikan program intervensi pemerintah tidak hanya bertumpu pada angka statistik, tetapi juga mempertimbangkan kondisi serta persoalan yang ditemukan di masyarakat.
Pengumpulan data secara kuantitatif dilakukan melalui sejumlah aplikasi dan penelusuran data secara manual dari puskesmas.
“Data tersebut, kemudian dianalisis untuk mengetahui kondisi pelayanan kesehatan dan mengidentifikasi kelemahan yang masih ditemukan di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, pendalaman secara kualitatif dilakukan melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) di Mepanga, Palasa, Tinombo, Parigi, Parigi Selatan, dan Sienjo.
Dari hasil pengumpulan dan analisis data tersebut, Bappelitbangda Parimo menetapkan dua kriteria dalam menentukan wilayah prioritas atau lokus intervensi.
Pertama, kecamatan dengan angka kematian ibu dan anak tertinggi. Kedua, wilayah yang memiliki faktor risiko tinggi terhadap kemungkinan terjadinya kematian ibu dan anak.
Penentuan prioritas juga menggunakan sistem skoring berdasarkan tiga aspek, yakni angka kematian ibu, kematian neonatal, serta kematian bayi.
“Jadi kriteria lokus itu ada dua, kematian yang tertinggi dan risiko yang memungkinkan terjadi kematian. Itu menjadi prioritas kita untuk melakukan intervensi,” ungkap Irdan.
Ia menyebutkan, sejumlah kecamatan yang menjadi fokus awal pemetaan di antaranya Mepanga, Palasa, Tinombo, Toribulu, dan Tada.
Penentuan wilayah tersebut, tidak semata-mata didasarkan pada tingginya angka kematian, tetapi juga mempertimbangkan kondisi yang berpotensi mengalami kasus serupa.
“Setiap wilayah memiliki karakteristik dan persoalan berbeda, sehingga membutuhkan bentuk intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News














