PARIMO, theopini.id — Timbulan sampah di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, masih jauh lebih besar dibandingkan kapasitas pengelolaannya. Dari sekitar 84.177 ton sampah yang dihasilkan setiap tahun, baru sekitar 10.177 ton atau 12,46 persen yang terkelola.
Menurut Kepala Bidang Penaatan dan Penataan DLH Parimo, Muh. Idrus, kondisi tersebut membutuhkan perubahan pendekatan, dari pola pengelolaan sampah konvensional menuju sistem yang tidak hanya mengurangi timbulan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan angkut dan buang. Kita perlu menjadikan sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendorong masyarakat untuk terlibat langsung,” ujar Idrus dalam Lokakarya Advokasi Kebijakan Pengelolaan Sampah & Ekonomi Sirkular yang dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Parimo, di Parigi, Kamis, 24 September 2026.
Ia mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong transformasi pengelolaan sampah dengan mengembangkan sejumlah pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Salah satunya melalui program Bayar Pajak Dengan Sampah (Bapak Desa). Melalui program tersebut, masyarakat didorong memilah sampah rumah tangga sebelum menyetorkannya ke Bank Sampah Unit (BSU) di tingkat desa.
Sampah yang terkumpul kemudian dikelola dan dikoordinasikan dengan Bank Sampah Induk (BSI), yang dikelola DLH Parimo sebelum dijual kepada pembeli atau buyer.
Hasil penjualan sampah tersebut, selanjutnya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk membantu memenuhi kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
“Konsepnya sederhana. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai kita kumpulkan, pilah dan jual. Nilai ekonominya kemudian dapat digunakan untuk membantu masyarakat membayar PBB,” jelasnya.
Menurut Idrus, pendekatan tersebut sekaligus menempatkan masyarakat sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah.
Sampah rumah tangga tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi.
Program tersebut, menjadi bagian dari pembahasan strategi kebijakan pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di Kabupaten Parimo.
Pembahasan berlangsung dalam lokakarya yang dilaksanakan Perkumpulan Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) atas dukungan Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI pengelolaan lanskap darat dan laut lestari.
Program tersebut, menjangkau Kabupaten Parimo, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu di Sulawesi Tengah.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Moh Abdillah Novandi















