JAKARTA, theopini.id — Sebanyak 11 dari 20 kain Tenun Saga asal Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, terjual dalam dua hari pada Pameran Kriyanusa 2026 di Jakarta.
Ketua Dekranasda Parimo, Hj Hestiwati Nanga, mengatakan penjualan tersebut menjadi indikator positif terhadap minat pengunjung terhadap Tenun Saga.
Ketertarikan itu, terlihat dari perhatian terhadap bahan, desain, motif hingga keunikan budaya yang melekat pada kain khas Parimo tersebut.
“Ini menjadi indikator positif, karena masyarakat mulai tertarik dengan Tenun Saga, baik dari bahan, desain, motif maupun keunikan budaya yang ada di dalamnya,” kata Hestiwati, dalam keterangan resminya, Senin, 28 September 2026.
Tenun Saga Parimo dipamerkan melalui stan Dekranasda Provinsi Sulawesi Tengah, pada Pameran Kriyanusa 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC).
Dari 20 kain yang dibawa untuk mengikuti pameran, sebanyak 11 kain telah terjual selama dua hari.
Sebanyak 10 kain yang terjual merupakan Tenun Saga berbahan semi-sutra, dengan pewarna sintetis. Masing-masing kain tersebut, dibanderol Rp1 juta. Sementara satu kain lainnya menggunakan pewarna alam dengan harga Rp1,5 juta.
Dengan penjualan tersebut, masih tersisa sembilan kain Tenun Saga yang dipamerkan, terdiri atas lima kain dengan pewarna sintetis dan empat kain dengan pewarna alam.
Hestiwati berharap, capaian penjualan selama pameran dapat menjadi motivasi bagi para perajin Tenun Saga untuk terus melakukan inovasi.
“Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi para perajin untuk terus berinovasi. Kami juga berharap dukungan Dekranasda terhadap pengembangan Tenun Saga dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.
Menurutnya, keikutsertaan dalam pameran tidak hanya menjadi kesempatan untuk menjual produk, tetapi juga memperkenalkan Tenun Saga Parimo kepada masyarakat yang lebih luas.
Respons pengunjung selama Kriyanusa, kata dia, menunjukkan bahwa Tenun Saga memiliki daya tarik dari sisi produk maupun nilai budaya yang dibawanya.
Ia berharap, promosi dan pengembangan Tenun Saga dapat terus dilakukan, sehingga kain khas Parimo tersebut semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati
















