PALU, theopini.id – Fraksi Bersih-Bersih Sulawesi Tengah menggelar aksi 1.000 lilin untuk korban ledakan smelter di Kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabuputen Morowali, di Taman Nasional Palu, Minggu, 24 Desember 2023.
“Pagi tadi sekitar jam 05.30 sebuah kecelakaan kerja pada kawan-kawan buruh di PT. Indonesia Tsingshan Stainless Stell (ITSS) sebuah perusahaan tenan di kawasan PT IMIP,” ungkap Kordinator Fraksi Bersih-bersih Sulawesi Tengah, Tulus Hakim, di Palu.
Baca Juga: Kecam Peristiwa di PT GNI, Komisi III DPR RI Akan Berkunjung ke Morut
Kecelakaan ini, menurutnya, terjadi saat para buruh melakukan perbaikan tungku dan hendak memasang plat. Namun, sebelum terpasang terjadi ledakan dan menyebabkan kebakaran.
Dalam musibah tersebut, kata dia, menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 32 orang lainnya menderita luka-luka, akibat terbakar.
Dari kesaksian para buruh yang bekerja di kawasan PT IMIP, sebab utama kecelakaan diduga akibat alat-alat yang digunakan dalam tungku tidak layak setelah diimpor dari Tiongkok.
“Hal ini sudah menjadi preseden di kawasan PT IMIP, dan telah menjadi rahasia umum bagi para buruh yang bekerja. Seharusnya, ada uji kelayakan alat-alat yang akan dipakai sebelum melakukan produksi,” jelasnya.
Tak hanya itu, kejadian yang sama pernah terjadi di PT. Gunbuster Nickel Industri (GNI) di Morowali Utara pada bulan September 2023.
Saat itu, sebanyak enam buruh mengalami luka-luka dan satu lainnya meninggal dunia, akibat terkena semburan api tungku.
Ia menilai pemerintah tak pernah serius memberikan sanksi kepada PT IMIP dan perusahaan-perusahaan tenan-nya, ketika terjadi kecelakaan kerja.
Olehnya, Fraksi Bersih-Bersih menuntut agar pemerintah memberikan sanksi yang tegas kepada perusahaan-perusahaan tenan di kawasan PT IMIP, evaluasi seluruh sistem perizinan tambang di Sulawesi Tengah.
Selain itu, tak kalah pentingnya untuk mengevaluasi sistem kesehatan dan kecelakaan kerja yang terjadi di kawasan PT IMIP, PT SEI dan PT BTIIG dan naikkan buruh Morowali dan Morowali Utara serta hapuskan sistem kerja kontrak dan outsourcing.
Baca Juga: PUPR Siapkan Masterplan Pengembangan Kawasan Industri di Sulteng
“Lemahnya K3 di lingkungan perusahan di Morowali bukan hanya sekedar Alat Pelindung Diri (APD) yang harus di penuhi. Tapi soal pembagian jam kerja dan rotasi kerja, yang tidak dilihat perusahaan. Banyak para buruh bekerja sudah melebihi prosedur yang tidak menentu,” tukasnya.
Ia berharap, dengan adanya peristiwa kecelakaan kerja yang terjadi di Kabupaten Morowali, pemerintah tak tinggal diam, dan mencegah terjadinya peristiwa serupa.







Komentar