PARIMO, theopini.id – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulawesi Tengah telah menindaklanjuti keluhan tentang penyakit bangkalan yang menyerang areal perkebunan durian di sejumlah kabupaten sentra produksi, sebagai upaya menjaga kualitas buah jelang ekspor ke Tiongkok.
“Beberapa kali kami sudah menindaklanjuti. Pertama, kami menyurat ke Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, dan mereka telah mengambil sampel durian yang terdampak penyakit,” kata Kepala Dinas TPH Sulawesi Tengah, Nelson Metubun, di Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Rabu, 4 Juni 2025.
Baca Juga: Anwar Hafid Dorong Parimo Jadi Lumbung Durian Dunia
Nelson menambahkan, seiring terbukanya peluang ekspor durian ke Tiongkok, diperlukan jaminan kualitas terhadap cita rasa dan tekstur buah.
Penyakit bangkalan dikhawatirkan akan menurunkan kepercayaan negara tujuan terhadap durian asal Indonesia.
“Karena itu, perlu langkah cepat untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, ada beberapa dugaan penyebab utama serangan bangkalan, antara lain kekurangan unsur hara, dugaan infeksi virus karena penyebarannya cepat, serta masalah sanitasi dan pemeliharaan tanaman.
“Setidaknya ada tiga sampai empat faktor besar yang kami identifikasi sebagai penyebab utama penyebaran penyakit ini di beberapa sentra durian di Sulawesi Tengah,” ujarnya.
Kabupaten Parimo, lanjut Nelson, telah mengarah sebagai kawasan lumbung durian. Namun ia menilai, sinergi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) baik di tingkat kabupaten maupun provinsi masih perlu ditingkatkan.
Sebagai gambaran, saat ini baru sekitar 3.600 hektare perkebunan durian yang terdaftar secara resmi. Padahal, Sulawesi Tengah diperkirakan memiliki sekitar tiga juta pohon durian.
“Kalau kita hitung rata-rata 100 pohon per hektare, berarti potensi lahan durian mencapai 30 ribu hektare. Ini potensi besar,” ujarnya.
Terkait ekspor, ia mendorong agar Sulawesi Tengah membuka diri bagi investor yang ingin mengembangkan sentra-sentra durian, termasuk dalam aspek distribusi.
Salah satu opsi adalah pengiriman lewat jalur laut dari Pelabuhan Pantoloan di Donggala menuju Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara, lalu langsung ke Tiongkok.
“Dulu lewat jalur udara butuh waktu hingga 20 hari. Sekarang lewat laut bisa hanya 9 sampai 11 hari,” jelasnya.
Untuk memperkuat posisi petani, Dinas TPH Sulawesi Tengah berencana mempertemukan langsung para investor dengan petani durian.
Baca Juga: Perkebunan Durian Teregistrasi Ekspor di Sulteng Tembus 3.600 Hektar, Terbesar di Parimo
Hal ini, bertujuan agar petani mengetahui harga pembelian dari negara tujuan ekspor dan dapat memperoleh keuntungan maksimal.
“Kami akan memfasilitasi mediasi antara petani dan investor, agar petani betul-betul mendapatkan hasil yang sepadan dari budidaya durian mereka,” pungkasnya.
Baca berita lain di Google News
















