SIGI, theopini.id – Gubernur Sulawesi Tengah, H Anwar Hafid menargetkan produktivitas padi meningkat dari rata-rata 4 ton menjadi 6 ton per hektare pada 2027, melalui Program Berani Panen Raya.
Target tersebut, diharapkan mampu memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan nasional.
“Kalau rata-rata Sulawesi Tengah bisa mencapai 6 ton per hektare, kita sudah memberi kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional,” kata Anwar Hafid saat membuka Rapat Koordinasi Perluasan Penerapan Budidaya Padi Pertanian Modern (PMAAS) dan Program Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2026 di Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP), Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurutnya, Program Berani Panen Raya merupakan langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menjawab mandat Asta Cita Presiden dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia mengatakan, apabila pemerintah pusat menargetkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare, maka Sulawesi Tengah menetapkan sasaran yang realistis dengan meningkatkan rata-rata hasil panen menjadi 6 ton per hektare pada 2027.
Anwar optimistis target tersebut dapat dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, penyuluh pertanian hingga petani, bekerja secara terpadu dalam menerapkan pola budidaya yang lebih modern dan produktif.
Selain meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada, Program Berani Panen Raya juga diarahkan untuk mendukung pengembangan areal persawahan baru melalui program cetak sawah.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengantisipasi terus berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan teknologi, mekanisasi, dan digitalisasi pertanian agar sektor pertanian Sulawesi Tengah semakin efisien dan mampu bersaing dengan daerah lain.
“Tujuan akhir dari Berani Panen Raya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi menghadirkan kesejahteraan bagi petani Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Indah Nurrahma Safira














