SIGI, theopini.id – Pemerintah Daeah (Pemda) Sigi, Sulawesi Tengah terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem literasi yang kontekstual, inklusif, dan berbasis budaya lokal.
Melalui Forum Multi Sektor untuk Peningkatan Literasi dan Pendidikan, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae menegaskan pentingnya pendekatan literasi yang tidak hanya menekankan kemampuan baca tulis, tetapi juga pemahaman terhadap nilai-nilai budaya yang membentuk karakter generasi muda.
Baca Juga: Cegah Radikalisme Lewat Literasi, FKPT Sulteng Gaungkan Narasi Damai
“Literasi tidak cukup hanya soal membaca dan menulis. Literasi harus membentuk cara berpikir, menghargai warisan budaya, dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Bupati Rizal dalam arahannya di hadapan komunitas Merdeka Belajar dan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor di Ruang Rapat Bupati Sigi, Jum’at, 11 Juli 2025.
Sebagai langkah konkret, Pemda Sigi akan menggelar Festival Baku Bantu, sebuah festival literasi dan kebudayaan yang menjadi bagian dari gerakan Merdeka Belajar.
Festival ini, akan diselenggarakan di Gedung Kesenian Tai Ganja dan menghadirkan beragam kegiatan seperti pameran edukatif, pertunjukan seni budaya, lokakarya guru, diskusi publik, dan ruang ekspresi kreatif untuk anak-anak dan remaja.
“Festival Baku Bantu adalah ruang belajar bersama. Kami ingin anak-anak Sigi tumbuh sebagai generasi literat yang mengenal budayanya dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” lanjut Bupati Rizal.
Nama festival ini diambil dari filosofi lokal “Baku Bantu”, yang mencerminkan semangat gotong royong dalam masyarakat Sigi.
Nilai ini, menjadi inti dari pendekatan literasi yang ingin dibangun: menyatu dengan kehidupan sehari-hari, menghargai kearifan lokal, dan memperkuat kohesi sosial antar generasi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, menambahkan bahwa sinergi lintas sektor sangat penting untuk mendorong literasi di tengah perubahan zaman.
“Literasi hari ini mencakup kemampuan memahami, mengapresiasi, dan melestarikan budaya sebagai identitas. Di sinilah peran semua pihak sangat dibutuhkan,” ungkapnya.
Baca Juga: Boskin untuk SD Berprestasi, Parimo Prioritaskan Program Koding dan Literasi
Festival Baku Bantu diharapkan menjadi momentum kolektif untuk memperluas akses literasi yang bermakna, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung pendidikan yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.
Pemda Sigi mengajak seluruh elemen guru, seniman, komunitas adat, dan orang tua untuk bersama-sama membangun generasi literat yang berbudaya.
Baca berita lainnaya di Google News













