YOGYAKARTA, theopini.id – Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menekankan, pentingnya penguatan industri komponen dalam negeri untuk mendukung kemandirian dan daya saing sektor perkeretaapian nasional.
Hal ini, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan mobilitas penumpang dan angkutan barang yang terus meningkat dalam lima tahun ke depan.
Baca Juga: Kemenperin Genjot Kolaborasi Percepatan Industri Halal Nasional
“Peningkatan kebutuhan transportasi kereta api harus diimbangi dengan pendalaman struktur industri, khususnya dari sektor berbasis logam,” ujar Faisol saat membuka Focus Group Discussion bertema “Potensi Pengembangan Komponen Kereta Api Dalam Negeri” di Yogyakarta, Jum’at, 25 Juli 2025.
Ia menyebutkan, saat ini Indonesia telah memiliki basis industri sarana kereta api yang cukup kuat, seperti yang dikembangkan oleh PT INKA.
Namun, tantangan masih besar terutama dalam hal penguasaan komponen strategis seperti blok rem komposit dan roda kereta api.
“Dibutuhkan lebih dari 200 ribu unit blok rem dan 30 ribu unit roda kereta api setiap tahun. Tapi tantangannya ada pada pemenuhan spesifikasi teknis dan keterbatasan fasilitas uji berstandar internasional,” paparnya.
Selain itu, industri juga masih menghadapi hambatan dalam produksi dan investasi komponen berteknologi tinggi seperti sistem propulsi, kelistrikan, dan bahan baku berbasis logam.
Karena itu, menurut Faisol, ekosistem industri perkeretaapian harus diperkuat dengan dukungan infrastruktur dan kolaborasi lintas sektor.
“Kami ingin mendorong kerja sama yang konkret antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Kampus harus dilibatkan dalam pengembangan riset dan teknologi,” ujarnya.
Faisol juga menyoroti arah kebijakan global, termasuk langkah negara-negara maju yang kini kembali fokus membangkitkan sektor industrinya. Hal itu, menurutnya, menjadi sinyal bahwa Indonesia juga harus berani mengambil posisi sebagai bangsa industri, bukan hanya konsumen.
“Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, sektor industri harus menjadi lokomotif. Industri kereta api, dengan potensi ekspor dan nilai tambahnya, punya peran besar dalam transformasi ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, potensi pasar global untuk sarana kereta api terus tumbuh, bahkan diproyeksikan mencapai USD96,5 miliar pada tahun 2030, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai pasar utama.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Dorong Sinkronisasi Program Daerah Lewat Skema Kolaboratif
Indonesia pun dinilai punya peluang besar, asalkan mampu memperkuat rantai pasok dan inovasi berbasis teknologi dalam negeri.
“Kami berharap forum ini menghasilkan rekomendasi kebijakan dan rencana aksi yang konkret, mulai dari hilirisasi bahan baku, penguatan fasilitas pengujian, hingga strategi investasi yang mendukung pertumbuhan industri komponen nasional,” pungkas Faisol.
Baca berita lainnya di Google News



Komentar