MAKASSAR, theopini.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, Sulawesi Tengah menegaskan komitmennya menjadikan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menjawab tantangan ketahanan pangan, penguatan UMKM, dan pembangunan pertanian berkelanjutan di wilayah perkotaan.
“Keilmuan para Profesor yang dikukuhkan hari ini sangat relevan dengan kebutuhan Kota Makassar, mulai dari ketahanan pangan, penguatan UMKM, hingga tata kelola pembangunan pertanian berkelanjutan,” ujar Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam acara pengukuhan tiga Profesor Universitas Bosowa, Rabu, 7 Januari 2026.
Baca Juga: Catat Rekor MURI Gigi Tiruan Terbanyak, Pemkot Makassar Hadirkan Senyum Baru untuk Warga
Ia menjelaskan, sebagai ibu kota provinsi dengan keterbatasan lahan pertanian, Kota Makassar menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, Kota Makassar sangat bergantung pada daerah penyangga.
“Karena itu, dibutuhkan alternatif dan inovasi agar pasokan pangan tetap terjaga, terutama di wilayah perkotaan,” jelasnya.
Ia mengapresiasi pemaparan Profesor di bidang ketahanan dan tata kelola pembangunan pertanian berkelanjutan, yang dinilainya memberikan gambaran konkret terkait solusi pangan perkotaan.
“Kami akan mengundang para Profesor untuk duduk bersama membahas implementasi program secara nyata,” katanya.
Ia menyebut, Pemkot Makassar akan mendorong berbagai inovasi seperti urban farming, vertical farming, hingga pemanfaatan teknologi dalam pertanian perkotaan.
“Kita ingin masyarakat mampu menjaga kemandirian pangan di tingkat rumah tangga dan lingkungan, meski dengan keterbatasan lahan,” ujarnya.
Selain sektor pangan, Munafri juga menyoroti peran strategis akademisi dalam penguatan UMKM. Menurutnya, inovasi dan tata kelola UMKM harus berorientasi pada kebutuhan pasar agar mampu bertahan dan berkembang.
“UMKM adalah motor penggerak ekonomi. Inovasi bukan lagi soal selera pelaku usaha, tetapi harus mengikuti selera pasar. Ini yang sering terlewat,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, sekitar 60 persen UMKM di Makassar masih berada dalam kondisi rentan atau mati suri, sehingga membutuhkan kehadiran pemerintah dan pendampingan akademisi secara serius.
Baca Juga: Pemkot Makassar Dorong Kolaborasi Pengelolaan Zakat dengan LMI
“Ujung dari UMKM adalah ekspor. Ketika UMKM bisa ekspor, berarti tata kelola sudah berjalan baik. Di sinilah peran akademisi sangat dibutuhkan,” bebernya.
Dalam konteks pembangunan jangka panjang, Munafri menekankan pentingnya konsep keberlanjutan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca berita lainnya di Google News








Komentar