PARIMO, theopini.id – Bupati Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, H Erwin Burase memaparkan kondisi kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), serta banjir bandang yang terjadi di sejumlah wilayah di daerah itu.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla dan Kekeringan yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, di Kota Palu, Senin, 31 Agustus 2026.
“Saat ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Parimo telah menetapkan status siaga Karhutla di enam kecamatan, mulai dari Palasa hingga Moutong. Di wilayah selatan sudah mulai turun hujan. Begitu juga Palasa, sudah mulai hujan. Tinggal lima kecamatan, dari Mepanga hingga Moutong,” ungkap Bupati Erwin.
Berdasarkan data, kata dia, tercatat 28 titik Karhutla berskala besar terjadi pada Januari hingga Maret 2026. Sementara pada Agustus 2026, kebakaran berskala kecil terjadi di Desa Bolano Barat dan Santigi, namun telah berhasil ditangani.
Saat ini, kekeringan terjadi di wilayah Kecamatan Mepanga dan Bolano Lambunu. Kondisi tersebut mengancam ribuan hektare lahan persawahan mengalami gagal panen karena debit air sungai mulai menurun.
“Kalau di Kecamatan Mepanga sekitar 3.200 hektare sawah terancam gagal panen,” kata Erwin.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan perhatian pemerintah karena masyarakat telah melaporkan persoalan kekeringan yang mulai meresahkan.
Salah satu solusi yang ditawarkan, kata Erwin, yakni menyiapkan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan yang berdampak terhadap lahan pertanian warga.
Di sisi lain, Kabupaten Parimo juga mendapat dukungan dari Batalyon Yonif TP 918/Matufu Maliuntinufu yang memiliki sejumlah peralatan, seperti mobil pemadam kebakaran, serta personel untuk mengantisipasi apabila terjadi Karhutla.
Selain Karhutla dan kekeringan, Kabupaten Parimo juga menghadapi bencana banjir. Kecamatan Kasimbar, misalnya, telah dua kali dilanda banjir, yakni pada 16 Agustus 2026 dan 28 Agustus 2026.
“Banjir ini mengakibatkan longsor, akses jalan Trans Sulawesi tertutup karena jembatan terputus. BWS Sulawesi Tengah sudah melakukan pemasangan jembatan bailey, dan saat ini sedang dilakukan pembersihan dan penanganan,” ujarnya.
Banjir bandang juga terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, pada Rabu (26/8/2026).
Dampak peristiwa tersebut menyebabkan 73 Kepala Keluarga (KK) mengungsi, baik di tenda pengungsian maupun di rumah keluarga.
“Ada rumah warga yang mengalami rusak ringan dan rusak berat. Harus butuh perhatian pemerintah, agar mereka segera bisa membangun kembali,” kata dia.
Selain itu, banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan sarana air bersih di Desa Toboli Barat, Kecamatan Parigi Barat. Sebanyak 350 KK mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Sebagai solusi sementara, pemerintah daerah melakukan penanganan darurat dengan menyiapkan tangki air untuk memenuhi kebutuhan warga setiap hari.
“Kami sudah menyiapkan tangki-tangki di Toboli Barat, karena ada 350 KK yang mengalami kekurangan air bersih,” ujarnya.
Oleh karena itu, Bupati Erwin mendorong penyiapan mobil tangki dan tandon penampungan air bersih untuk mendukung penanganan warga yang terdampak bencana.
Sementara untuk penanganan Karhutla, diperlukan penyiapan tangki semprot manual. Hal itu dinilai penting karena berdasarkan pengalaman kebakaran sebelumnya di Desa Avolua, mobil pemadam kebakaran tidak dapat mencapai titik api.
“Pemda Parimo sudah melakukan sosialisasi dan imbauan-imbauan kepada masyarakat di berbagai kesempatan, untuk mengantisipasi Karhutla,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News













