PARIMO, theopini.id – Sedikitnya lima kebakaran terjadi di wilayah utara Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo, Rivai, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian, karena sebagian wilayah utara juga mengalami kekeringan.
“Dalam minggu ini sudah sekitar lima kali, dalam dua minggu ini,” kata Rivai ditemui usai Apel Siaga Karhutla dan Kekeringan Batalyon Infanteri TP 918/Matufu Maliuntinufu di Desa Labuan, Kecamatan Moutong, Sabtu, 19 September 2026.
Menurutnya, status siaga darurat Karhutla dan kekeringan berlaku di seluruh wilayah Parimo. Namun, pemerintah memfokuskan kesiapsiagaan di wilayah utara, mulai dari Palasa hingga Moutong, yang mencakup delapan kecamatan.
Apel siaga Karhutla, merupakan bagian dari langkah pemerintah daerah memperkuat kesiapan menghadapi potensi kebakaran.
Kegiatan itu, digelar setelah sejumlah kebakaran terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada 17 September 2026, kebakaran terjadi di Kecamatan Bolano. Sehari sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Moutong Barat, Kecamatan Moutong.
Rivai menyebut, sebagian besar kebakaran diduga akibat kelalaian. Namun, beberapa kasus masih diselidiki aparat berwenang.
“Kebanyakan kelalaian. Ada yang masih diselidiki oleh aparat yang berwenang, apakah ini memang karena kelalaian atau kesengajaan,” ujarnya.
Selain Karhutla, kekeringan menjadi ancaman lain di wilayah utara. Kondisi tersebut, mulai berdampak pada ketersediaan air masyarakat.
BPBD Parimo bersama instansi terkait telah menyalurkan air ke sejumlah desa yang mengalami kekurangan air, yakni Desa Bolano Barat, Santigi, Pande di Kecamatan Moutong, serta Gunung Sari dan wilayah Bolano Tengah.
“Jadi ada lima desa yang kemarin kami coba suplai airnya selama hampir dua hari,” jelasnya.
Distribusi air juga dilakukan ke Desa Tomini dan Kayu Agung menggunakan tiga unit kendaraan tangka.
Menurut Rivai, kekeringan paling terasa di Bolano Barat dan Santigi. Di Desa Gunung Sari, kondisi sumber air bahkan sudah sangat menurun sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kalau kondisi seperti ini, memang sudah kering. Apalagi Bolano Barat dan Santigi, dalam keadaan normal saja memang sudah sangat (terbatas), apalagi dengan kondisi seperti sekarang,” katanya.
Rivai mengatakan status siaga darurat telah ditetapkan sejak 6 Agustus 2026, bersamaan dengan penanganan bencana tanggul patah.
Penanganan dilakukan bersama sejumlah instansi terkait, termasuk kepolisian dan TNI dari Batalyon Infanteri TP 918/Matufu Maliuntinufu.
BPBD mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul masih berlangsungnya ancaman kebakaran dan kekeringan, terutama di wilayah utara Parimo.
Baca berita lainnya di Google News















