PARIMO, theopini.id — Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong (Parimo) bersama Yayasan IPAS Indonesia mulai mematangkan Rencana Aksi Daerah (RAD) Penurunan Kematian Ibu dan Anak (KIA) periode 2027–2031.
Dokumen tersebut, diarahkan agar memuat program yang jelas dan dapat langsung diterapkan oleh perangkat daerah.
“Dalam RAD nantinya, tidak lagi bersifat umum, jadi harus aplikatif dan siap dilaksanakan. Indikatornya harus jelas,” ujar Kepala Bappelitbangda Parimo, Irwan dalam pembahasan RAD KIA di Parigi, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurutnya, penyusunan RAD KIA juga perlu mengubah pendekatan dalam penanganan persoalan kematian ibu dan anak.
Pemda Parimo, kata dia, tidak dapat hanya melihat persoalan dari sisi masyarakat atau komunitas, tetapi perlu membangun pendekatan pelayanan yang mampu menjangkau seluruh kelompok masyarakat.
“Sebagai pelayan publik, pemerintah daerah yang harus berinovasi merangkul seluruh lapisan masyarakat, termasuk komunitas adat terpencil,” katanya.
Penyusunan RAD tersebut, akan menggunakan analisis data berdasarkan karakteristik wilayah Parigi Moutong, meliputi wilayah selatan, tengah, dan utara.
Proses penyusunannya juga melibatkan masyarakat melalui lokakarya dan diskusi kelompok terarah atau FGD, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Kabupaten Parimo dipilih Bappenas dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sebagai lokasi percontohan atau piloting Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak (KKNPKIA) di Sulawesi Tengah.
Pemilihan tersebut berkaitan dengan kondisi geografis, kapasitas fiskal, serta kebutuhan penanganan kasus kematian ibu dan anak di daerah.
Sepanjang 2025, Kabupaten Parimo mencatat 10 kasus kematian ibu dan 70 kasus kematian bayi baru lahir. Eklamsia disebut sebagai penyebab utama kematian ibu, sementara gangguan respirasi dan kardiovaskular menjadi penyebab dominan pada kematian anak.
Selain persoalan medis, penyusunan RAD juga akan mempertimbangkan sejumlah faktor lain yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, termasuk angka perkawinan anak, cakupan pemeriksaan kehamilan, serta akses terhadap sanitasi dan air minum layak.
Konsultan IPAS Indonesia, Nur Safitri Lasibani, mengatakan penyusunan RAD KIA dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai sektor.
Salah satu fokusnya, memastikan program prioritas KIA terintegrasi dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
“RAD ini disusun secara partisipatif agar tercipta rasa kepemilikan oleh multipihak dan lintas sektor. Fokus utama kita adalah memastikan program prioritas dan alokasi anggaran KIA benar-benar masuk dalam APBD 2027,” jelas Nur Safitri.
Untuk mendukung pelaksanaan program, Pemda Parimo juga telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak (TP2AKIA).
Tim tersebut, akan berperan dalam koordinasi lintas perangkat daerah, pemantauan pelaksanaan program, serta evaluasi capaian secara berkala.
Baca berita lainnya di Google News















