PARIMO, theopini.id — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mulai memetakan potensi ekonomi dari limbah kulit durian di sejumlah packing house.
Selain mengatasi persoalan bau dan pencemaran, pengelolaan limbah ini disiapkan menjadi sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Jika kegiatan ini terlaksana maka akan menambah PAD dan aman dari bau limbah kulit durian,” ujar Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan Hidup DLH Parimo, Muhammad Idrus, Jum’at, 27 Februari 2026.
Ia menjelaskan, DLH Parimo berencana menjalin kerja sama resmi melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan pihak pengelola packing house.
Dalam skema tersebut, akan ditetapkan tarif retribusi pengelolaan limbah durian yang disesuaikan dengan peraturan daerah.
“Bisa hitungannya per bulan atau per rit angkutan limbahnya,” ungkapnya.
Tak hanya berhenti pada retribusi, DLH Parimo juga membuka peluang pengolahan kulit durian menjadi kompos bernilai ekonomi.
Menurut Idrus, apabila tersedia dukungan anggaran untuk pengadaan mesin pencacah, maka limbah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai jual.
“Ini akan membantu packing house menangani limbah sampahnya. Ada dua keuntungan untuk daerah, pertama bisa dapat PAD dari retribusi sampah, kedua komposnya punya nilai ekonomi,” jelasnya.
Ia memperkirakan, kebutuhan anggaran pengadaan mesin pencacah berkisar Rp100 juta hingga Rp200 juta.
Dengan skema tersebut, DLH berharap pengelolaan limbah durian di Kabupaten Parimo dapat bertransformasi dari beban lingkungan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah.
Baca berita lainnya di Google News















