PALU, theopini.id – Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, mengajak gereja dan pemerintah memperkuat kolaborasi dalam melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba dan dekadensi moral.
Menurutnya, kedua persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan hukum maupun pemerintah.
“Ketika moral anak-anak terancam, sekat-sekat perbedaan menjadi tidak lagi penting. Kita dipersatukan oleh satu misi besar, yaitu menyelamatkan generasi penerus bangsa,” kata Reny saat menjadi narasumber pada kegiatan Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) bersama Gereja Bagian Mandiri (GBM) GPID dan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Jemaat GPID Sola Gratia Palu, Senin, 13 Juli 2026.
Wagub Reny menyampaikan materi bertajuk Menjaga Generasi Emas: Sinergi Pemimpin Daerah dan Tokoh Agama Menghadapi Badai Narkoba dan Dekadensi Moral.
Ia menilai penyalahgunaan narkoba dan menurunnya nilai-nilai moral menjadi tantangan serius bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.
Karena itu, pemerintah, tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan, hingga masyarakat perlu berjalan beriringan dalam melakukan pencegahan.
“Pemerintah memiliki tanggung jawab melalui regulasi, kebijakan, dan penegakan hukum. Sementara para pendeta dan tokoh agama berperan membina hati, jiwa, serta spiritualitas umat. Sinergi keduanya akan melahirkan generasi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Reny menjelaskan, penyalahgunaan narkoba bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman yang dapat merusak masa depan generasi muda.
Dampaknya tidak hanya menghilangkan produktivitas, tetapi juga merusak fungsi otak sehingga memengaruhi kemampuan berpikir, kreativitas, dan motivasi hidup.
Selain itu, ia menyoroti semakin besarnya tantangan terhadap ketahanan keluarga akibat perubahan nilai di era globalisasi.
Menurutnya, keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak sehingga perlu diperkuat melalui pendidikan iman dan nilai-nilai moral.
“Perbedaan iman tidak boleh membatasi langkah kita untuk bergandengan tangan. Di hadapan kerusakan akibat narkoba dan dekadensi moral, tidak ada sekat agama. Korbannya bisa anak dari siapa saja,” tegasnya.
Ia berharap, kemitraan antara gereja, pemerintah, dan berbagai lembaga dapat terus diperkuat melalui edukasi, pendampingan, dan pembinaan generasi muda agar lahir sumber daya manusia yang sehat, berintegritas, serta memiliki karakter dan iman yang kuat.
Kegiatan tersebut, dihadiri Persekutuan Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID), perwakilan jemaat dari Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, serta jemaat Gereja Bagian Mandiri GPID dan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Indah Nurrahma Safira







