PARIMO, theopini.id – Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, belum difungsikan meski bangunannya telah rampung dan tenaga pelaksana sudah memiliki Surat Keputusan (SK) penugasan.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Parimo, Darlin, mengatakan pengoperasian Labkesmas masih menunggu ketersediaan peralatan laboratorium yang pengadaannya diajukan melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Tenaga kami sudah siapkan. Ketika ada alat, maka kita akan fungsikan. Petugasnya sudah ada SK, kita tinggal menunggu alat,” kata Darlin saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 8 September 2026.
Ia menjelaskan, SK tenaga Labkesmas telah diterbitkan pada Mei 2026. Dalam SK tersebut, terdapat tujuh tenaga dari instalasi farmasi dan 17 petugas laboratorium kesehatan yang disiapkan untuk mendukung operasional Labkesmas.
Menurutnya, pengadaan peralatan Labkesmas diajukan melalui aplikasi IMPULS Kemenkes. Peralatan tersebut diharapkan dapat diterima sekitar Oktober 2026 atau paling lambat pada 2027.
“Perhitungan kami mungkin Oktober, kalau tidak melewati tahun. Daftar alatnya sudah kita ajukan dan paketnya dibantu oleh pusat karena peralatannya cukup besar,” ujarnya.
Darlin menyebut, pemerintah daerah tidak memungkinkan memenuhi seluruh kebutuhan peralatan Labkesmas secara mandiri. Pemerintah daerah hanya dapat melakukan penambahan terhadap peralatan tertentu, jika dibutuhkan.
Sementara itu, kondisi bangunan Labkesmas masih baik. Bangunan tersebut telah mencapai progres 100 persen pada awal 2026 dan siap digunakan setelah peralatan tersedia.
“Bangunannya masih bagus, alhamdulillah. PHO sudah seratus persen,” katanya.
Darlin mengatakan, keberadaan Labkesmas nantinya tidak hanya mendukung pelayanan pemeriksaan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia menjelaskan, sejumlah pemeriksaan sampel seperti makanan, minuman, produk tertentu, dan air selama ini masih harus dikirim ke Palu untuk diperiksa dan dikenakan biaya.
“Kalau seperti itu kita lakukan, tentunya kita juga punya PAD untuk daerah. Contohnya sampel makanan dan air yang dikirim ke Palu itu berbayar,” jelasnya.
Namun, Darlin belum dapat memproyeksikan besaran PAD yang berpotensi diperoleh dari operasional Labkesmas. Hal itu, bergantung pada jenis dan jumlah peralatan yang nantinya diberikan pemerintah pusat.
“Belum bisa kami targetkan karena alatnya saja masih menunggu. Apakah semua jenis yang kita usulkan diberikan, termasuk untuk pemeriksaan nanti, kami belum bisa memprediksi,” ujarnya.
Ia berharap peralatan yang diberikan melalui dukungan pemerintah pusat dapat mencakup kebutuhan pemeriksaan sampel air dan makanan, sehingga layanan pemeriksaan dapat dilakukan di Parimo tanpa harus mengirim sampel ke daerah lain.
“Harapannya ada pemeriksaan sampel air dan sampel makanan. Pokoknya tergantung jenis alat yang mereka bantu sesuai menu dukungan dari pusat,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News















