PARIMO, theopini.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, mengingatkan sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar tidak memanipulasi data siswa, demi meningkatkan jumlah peserta didik dan memperoleh bantuan operasional lebih besar.
“Salah satu penyebab tingginya ATS kita karena data residu kita tidak sesuai dengan kenyataan,” kata Plt Kepala Disdikbud Parimo, Sunarti, saat menjawab pertanyaan peserta Sosialisasi Wajib Belajar 13 Tahun terkait temuan data ganda siswa di sejumlah sekolah, Rabu, 9 September 2026.
Ia mencontohkan, data siswa SMP berusia 15 tahun yang tercatat putus sekolah pada dasbor Pusdatin. Namun, setelah diverifikasi, anak tersebut ternyata telah berusia 18 tahun dan masuk kategori usia tamat sekolah.
Selain itu, ditemukan data ganda siswa yang tidak bersekolah, tetapi namanya tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sekolah reguler maupun PKBM tanpa sepengetahuan orang tua.
“Saya tidak menjustifikasi jajaran saya di pihak sekolah. Saya menduga ini dilakukan untuk mendongkrak jumlah siswa agar dana bantuannya juga meningkat,” ujarnya.
Sunarti mengingatkan sekolah dan PKBM, agar berhati-hati dalam menginput serta memperbarui data siswa.
Ia meminta, tidak ada pihak yang sengaja memanipulasi data hanya untuk memperoleh dana Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah.
Menurutnya, manipulasi data pendidikan berpotensi menjadi temuan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), mengingat besarnya anggaran negara yang dikucurkan untuk sektor pendidikan, termasuk program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).
“Saya harap semuanya bijak. Jangan hanya karena ingin mendapat bantuan besar, tetapi mengikhlaskan daerah kita tetap berada dalam status ATS tertinggi di Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Baca berita lainnya di Google News














