PARIMO, theopini.id – Tari Dunia Nu Ngana atau “Dunia Anak” tampil dalam malam Gelar Karya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan Festival Budaya Gampiri 2026 di Alun-alun Kantor Bupati Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Selasa malam, 3 November 2026.
Tarian garapan seniman Moh. Kemal Ramadhan itu dibawakan oleh siswa kelas IV dan V SD Negeri 2 Parigi. Karya tersebut merupakan bagian dari program GSMS yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo.
Meski hanya dipersiapkan selama satu bulan, para siswa mampu membawakan tarian yang mengandung pesan tentang pentingnya pemenuhan hak anak.
Melalui Tari Dunia Nu Ngana, Kemal ingin menyampaikan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sekaligus memiliki kesempatan untuk bermain dan menikmati masa kecilnya.
Pesan tersebut diterjemahkan melalui gerakan tari yang mengadaptasi sejumlah permainan tradisional, seperti bermain tali, dengan sentuhan adat dan tradisi masyarakat Suku Kaili.
“Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi mereka juga berhak bermain dan menikmati kebahagiaan masa kecilnya,” ungkap Kemal saat ditemui usai pentas.
Menurutnya, pendidikan merupakan bekal untuk membentuk masa depan anak. Sementara bermain memberikan kebahagiaan, kebebasan, serta ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai usianya.
Baginya, masa kecil bukan hanya tentang mempersiapkan masa depan melalui pendidikan, tetapi juga tentang menikmati kebahagiaan pada hari ini.
Dalam proses penggarapan karya tersebut, Kemal mengaku tidak menemui kendala berarti. Hal itu tidak lepas dari dukungan Kepala SD Negeri 2 Parigi, Sinta Hamdy, S.Pd.SD, beserta jajaran sekolah yang memberikan ruang dan kesempatan kepada para siswa untuk terlibat dalam program GSMS.
Selain dukungan pihak sekolah, proses latihan juga didampingi asisten pelatih, Amanda Dwi Lestari, yang merupakan Putri Duta Wisata 2025.
Namun, tantangan terbesarnya adalah melahirkan karya tari yang mampu memuat 10 unsur Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), sebagaimana menjadi sasaran dalam program GSMS.
“Di program ini, saya bukan hanya melatih, tetapi juga ikut belajar bagaimana mengamati, mengenal, dan lebih mencintai budaya daerah kita sendiri,” imbuhnya.
Menurut Kemal, GSMS menjadi ruang kolaborasi antara seniman dan lingkungan sekolah untuk memperkenalkan seni budaya kepada peserta didik, sekaligus mengembangkan kreativitas mereka melalui proses berkesenian.
Ia berharap program GSMS dapat terus berlanjut sehingga melahirkan lebih banyak seniman lokal yang berkontribusi dalam mengangkat dan melestarikan kebudayaan daerah sebagai identitas Kabupaten Parimo.
“Saya berharap program GSMS ini bisa berlanjut, sehingga dapat terus melahirkan seniman lokal yang mengangkat dan melestarikan budaya daerah sebagai identitas Kabupaten Parimo,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News














