PARIMO, theopini.id – Umat hindu di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, arak puluhan ogoh-ogoh di jalan Trans Sulawesi, Desa Tolai, Kecamatan Torue, Minggu sore, 10 Maret 2024.
Ogoh-ogoh yang identik dengan aneka ragam bentuk menyeramkan diarak sepanjang satu kilometer menuju ke tempat pembakaran di Pura Agung Purnasadha Desa Tolai, yang disebut prosesi pengerupukan.
Baca Juga: PHDI Parimo Helat Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Caka 1945
Prosesi pengerupukan, salah satu tahapan pelaksanaan Hari Suci Nyepi. Maknanya mengusir Bhuta Kala, atau manifestasi sifat buruk bagi umat Hindu dari lingkungan rumah dan perkarangan.
Di Desa Tolai, pawai ogoh-ogoh memang rutin setiap tahun digelar umat Hindu. Bahkan, menarik perhatian warga dari berbagai kecamatan lain.

Makanya, jalur Trans Sulawesi Desa Tolai kerap macet, dipadati para penonton yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan pawai ogoh-ogoh tersebut.
“Ada 22 ogoh-ogoh yang diarak hari ini. Jumlahnya, lebih banyak dari tahun sebelumnya,” kata Sekretaris Pura Agung Purnasadha Desa Tolai, I Nyoman Sudimantra, di Desa Tolai, Minggu.
Tahun ini, kata dia, sebanyak 10 adat Purnasadha Desa Tolai ikut berpartisipasi, yang masing-masing menyiapkan satu hingga dua ogoh-ogoh.
Menurutnya, umat Hindu Desa Tolai telah menggelar pawai ogoh-ogoh sejak 1990 hingga saat ini. Awalnya hanya diarak di sekitar pura.
Baca Juga: Jelang Nyepi, Umat Hindu di Parimo Gelar Pawai Ogoh-ogoh
“Beberapa kali tidak dilaksanakan, karena pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dan Covid-19,” ujarnya.
Ia berharap, pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dapat mempererat persaudaraan antar umat Hindu, serta mencipkana kedamaian.







Comments 4