GSMS Parimo Perkuat Literasi Budaya dan Kreativitas Siswa Lewat Pameran Foto di FTT 2025

PARIMO, theopini.idProgram Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang edukasi seni dan budaya bagi pelajar.

Pameran foto yang digelar di lokasi eks Sail Tomini, Kayubura, Jum’at, 21 November 2025, menjadi bukti nyata bagaimana GSMS mendorong siswa memahami fotografi sekaligus mempelajari kembali kekayaan budaya lokal.

Baca Juga: Lewat GSMS, 25 Siswa SMP Negeri 3 Parigi Dibekali Keterampilan Fotografi

Kegiatan ini, merupakan bagian dari rangkaian Festival Teluk Tomini (FTT) 2025 dan berada di bawah tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parimo.

“Saya bangga bisa jadi bagian dari GSMS. Jadi banyak tahu dunia fotografi, diajarkan mengambil angle dari berbagai sudut. Saya berharap ada pelatihan lanjutan,” ujar Awliyah Ramadhani, siswa SMP Negeri 3 Parigi, ditemui Jum’at malam.

Selama mengikuti GSMS, Awliyah merasa terbantu dalam mengembangkan minatnya di bidang seni, khususnya fotografi.

Ia menyebut, program ini membuka ruang belajar yang tidak selalu diperoleh di bangku sekolah formal. Kehadiran GSMS, perlu dipertahankan agar siswa dapat terus mengeksplorasi seni, baik tari, musik, maupun fotografi.

Seniman fotografi GSMS, Isra Labudi, menjelaskan, proses belajar para siswa berlangsung intensif selama 18 pertemuan, terdiri dari 14 sesi teori fotografi dan 4 sesi praktik, ditambah 3 pertemuan tambahan menjelang pameran.

Proses pendampingan ini, dirancang bukan hanya untuk mengajarkan teknik memotret, tetapi juga memperkenalkan nilai budaya melalui objek-objek fotografi.

“Kami bagi 24 peserta menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memotret cagar budaya, kelompok kedua alat musik tradisi, dan kelompok ketiga permainan tradisional,” ujar Isra.

Objek yang dipilih bukan tanpa alasan. Siswa diarahkan untuk menyentuh aspek-aspek budaya yang masuk dalam 10 objek pemajuan kebudayaan, seperti Tugu Khatulistiwa, Rumah Raja Tombolotutu, jembatan peninggalan Belanda, alat musik lalove, serta berbagai permainan tradisional seperti enggrang, bakiak, enggrang batok kelapa, main sarung, hingga balon sarung. Beberapa foto dikonsep menggunakan talent untuk memperkuat narasi visual.

Baca Juga: 19 Siswa SMP Negeri 2 Parigi Tampilkan Karya Seni Fotografi di Pentas Akhir GSMS

“Harapan saya, anak-anak ini tetap mencintai fotografi. Semoga ada yang kelak jadi fotografer sukses, lebih bagus. Yang penting mereka belajar budaya melalui fotografi,” imbuh Isra.

Melalui GSMS, seni tidak hanya diperkenalkan sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai medium pendidikan budaya.

Pameran foto ini, sekaligus menegaskan pelajar Parimo mampu menghasilkan karya yang tidak hanya estetik, tetapi juga memuat pesan tentang identitas dan kekayaan budaya daerah.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar