PARIMO, theopini.id – Peringatan Hari Ibu ke-97 di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi ajang penghormatan bagi peran perempuan, tetapi juga momentum untuk menyoroti berbagai persoalan yang masih menghambat terwujudnya kesetaraan gender.
“Peringatan Hari Ibu, bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi momentum penting untuk merefleksikan peran strategis perempuan sebagai pilar utama keluarga, sekaligus agen perubahan dalam pembangunan daerah,” ujar Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Setda Parimo, Ir Lewis, membacakan sambutan Bupati Parimo, di Parigi, Kamis, 19 Desember 2025.
Baca Juga: Jelang Peringatan Hari Ibu, Pengurus Perempuan PGRI Sulteng Gelar Talkshow
Ia menegaskan, tema Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045 menjadi pengingat, bahwa perempuan harus hadir sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar pelengkap.
“Pemerintah Daerah (Pemda) Parimo terus berkomitmen mendorong peningkatan kualitas hidup perempuan melalui program pemberdayaan, perlindungan, serta pengarusutamaan gender,” lanjutnya.
Ketua GOW Parimo, Hestiwati Nanga menyoroti, kemajuan perempuan di berbagai sektor memang terlihat, namun masih dibayangi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
“Tema peringatan Hari Ibu tahun ini menegaskan pentingnya kesetaraan gender dalam membuka akses dan peluang yang lebih luas bagi perempuan agar dapat mengembangkan potensi dan berkontribusi aktif dalam pembangunan,” ujarnya.
Ia memaparkan, capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) Parimo mencapai 92,66 persen serta Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) sebesar 60,52 persen pada 2024.
Keduanya menunjukkan tren positif, termasuk keterwakilan perempuan di parlemen yang telah mencapai 17,5 persen.
Baca Juga: Peringati Hari Ibu, DP3AP2KB Gendeng DWP Parimo Gelar Talkshow Gerakan DASHAT
Namun, Hestiwati menegaskan, kemajuan tersebut belum cukup untuk menutupi persoalan yang masih terjadi di lapangan.
“Perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar angka statistik, melainkan persoalan serius yang merusak masa depan generasi. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, organisasi perempuan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama,” tegasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar