JAKARTA, theopini.id — Sebanyak 117.432 jiwa warga miskin dan kerusakan infrastruktur jalan sepanjang 192,75 kilometer di kawasan transmigrasi menjadi data utama yang dibawa Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong (Parimo) saat audiensi dengan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia (Kementrans) RI di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
“Kami berharap dukungan pemerintah pusat untuk percepatan pembangunan dan pengembangan kawasan transmigrasi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bupati Erwin Burase saat bertemu Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman.
Dalam pemaparannya, Erwin menegaskan, kawasan transmigrasi telah menjadi pilar pembangunan daerah sejak 1962, ditandai kedatangan 52 kepala keluarga (248 jiwa) asal Bali di SP Nambaru, Desa Sumber Sari, Kecamatan Parigi Selatan.
Program berlanjut pada 1967 dan 1968, dengan kedatangan 295 KK (1.453 jiwa) dari Bali dan Jawa di SP Torue dan SP Tolai.
“Sejak 1962, transmigrasi sudah menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Parimo, terutama di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan,” jelasnya.
Pada tahun-tahun berikutnya, transmigran juga berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, DIY, Bali, NTB, serta melalui program APPDT, swakarsa, pengungsi Poso, TPS dan TMS.
Saat ini, Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya memiliki potensi komoditas unggulan yang signifikan, yakni durian 903,9 ton per tahun, padi 3.742 ton per tahun, kelapa 8.975 ton per tahun, kakao 2.437 ton per tahun, perikanan tangkap 8.134 ton per tahun, serta perikanan budidaya 2.759 ton per tahun.
Potensi tersebut, dinilai strategis untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis agro-maritim.
Namun demikian, Bupati Erwin memaparkan sejumlah persoalan mendasar yang masih membayangi kawasan tersebut.
“Dari total 330,61 kilometer jalan kawasan, sepanjang 192,75 kilometer dalam kondisi rusak. Selain itu, ada enam daerah irigasi dengan luas 1.008 hektare yang juga mengalami kerusakan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tingginya angka kemiskinan yang mencapai 117.432 jiwa, keterbatasan akses permodalan, serta minimnya dukungan teknologi peralatan perikanan dan pengolahan hasil pertanian.
Dalam audiensi itu, Pemda Parimo mengusulkan pembangunan dan pengembangan kawasan transmigrasi melalui pembangunan RTJK sisa daya tampung (SDT), jalan lingkungan kawasan, tanggul abrasi pantai, serta drainase tipe 70.
Selain itu, diusulkan pula pengembangan ekonomi kawasan dan pemberdayaan transmigrasi, meliputi pengembangan lahan usaha kapal tangkap dan bagan apung, pembangunan sentral pelelangan ikan, pengembangan wisata bahari transmigrasi, serta penguatan koperasi nelayan Merah Putih.
Sementara itu, Mentrans M. Iftitah Sulaiman merespons positif berbagai usulan tersebut dan menyampaikan, bahwa seluruh proposal akan dipelajari lebih lanjut di tingkat kementerian.
Ia menekankan pentingnya fokus pada pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja melalui pembangunan ekosistem ekonomi.
“Fokus Kementerian Transmigrasi adalah peningkatan produktivitas masyarakat dengan membuka lapangan kerja melalui pembangunan ekosistem ekonomi, seperti pengembangan desa modern,” ungkapnya.
Iftitah juga mengungkapkan, adanya calon investor asal Tiongkok yang berminat menanam komoditas kelapa dengan kebutuhan lahan sekitar 2.000 hektare. Ia meminta pemerintah daerah memfasilitasi kesiapan lahan sesuai ketentuan yang berlaku.
Audiensi tersebut menjadi langkah strategis memperkuat sinergi pusat dan daerah guna mendorong transformasi kawasan transmigrasi Tomini Raya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang produktif dan berkelanjutan, sekaligus menjawab persoalan kemiskinan serta keterbatasan infrastruktur yang masih dihadapi masyarakat kawasan.
Baca berita lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan