Pemkot Makassar Dorong Sampah Organik Jadi Penopang Ketahanan Pangan

MAKASSAR, theopini.idPemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus mendorong pemanfaatan sampah organik, sebagai sumber daya produktif yang dapat mendukung ketahanan pangan masyarakat, melalui pengembangan program urban farming di berbagai wilayah kota.

“Kita ingin sampah organik tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali. Urban farming harus terhubung dengan pengolahan kompos dan maggot agar tercipta siklus yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, saat memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Rabu, 3 Juni 2026.

Rapat yang berlangsung di Kantor Dekranasda Makassar tersebut, membahas strategi pengintegrasian hasil pengolahan sampah organik dengan program urban farming yang selama ini berkembang di sejumlah kawasan Kota Makassar.

Menurut Melinda, seluruh kawasan urban farming perlu didorong untuk mengoptimalkan pengolahan sampah organik melalui produksi kompos dan budidaya maggot.

Langkah itu, dinilai penting untuk menciptakan sistem lingkungan yang produktif sekaligus mendukung ketersediaan pangan lokal.

Selain itu, Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar juga mendorong edukasi berkelanjutan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) dan masyarakat terkait pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi.

Setiap wilayah diharapkan mampu mengembangkan komoditas sesuai potensi lokal agar hasil yang diperoleh lebih optimal.

Untuk memperkuat program tersebut, pemerintah berencana menghadirkan penyuluh urban farming di setiap kecamatan guna mendampingi masyarakat dalam budidaya tanaman, pengolahan kompos, hingga pemanfaatan hasil panen.

Tidak hanya itu, Dewan Lingkungan Hidup juga merencanakan pelaksanaan kegiatan “Market Day” yang akan melibatkan perangkat daerah dan kecamatan sebagai wadah promosi serta pemasaran hasil urban farming masyarakat.

Sementara itu, Tim Ahli Pemerintah Kota Makassar, Andi Fadli, menjelaskan bahwa kebijakan Wali Kota Makassar diarahkan untuk mengintegrasikan program urban farming, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan hidup dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

“Hasil kompos yang diproduksi masyarakat dapat dimanfaatkan kembali untuk urban farming. Bahkan ke depan berpotensi terhubung dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif,” jelas Fadli.

Ia menilai tingginya volume sampah organik di Kota Makassar menjadi peluang besar untuk mendukung pengembangan urban farming apabila dikelola secara terintegrasi dan berbasis potensi wilayah.

Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, Aulia Arsyad, mengungkapkan saat ini terdapat 15 lokasi urban farming yang telah aktif.

Namun, masih ada sejumlah lokasi yang membutuhkan dukungan fasilitas pengolahan sampah organik seperti kompos dan maggot.

Menutup rapat tersebut, Melinda berharap model kolaborasi antara pengelolaan sampah, urban farming, dan ketahanan pangan dapat diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah Kota Makassar.

“Harapan kami, model kolaborasi ini dapat diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah Kota Makassar, sehingga pengelolaan sampah, urban farming, dan ketahanan pangan dapat berjalan dalam satu ekosistem yang saling mendukung dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar