BANGGAI, theopini.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustaka) Banggai, Sulawesi Tengah, mendorong transformasi perpustakaan menjadi ruang inklusif yang memberdayakan masyarakat.
Hal ini, ditegaskan dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Pustakawan dan Akreditasi Perpustakaan, sebagai bagian dari program Banggai Cerdas.
Baca Juga: Pemda Parimo Gelar Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan TIK 2024
“Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah upaya untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengembangkan potensi individu dan kelompok masyarakat,” ujar Wakil Bupati Banggai, H Furqanuddin Masulili, di Luwuk, Kamis, 7 Agustus 2025.
Ia menambahkan, perpustakaan harus mampu menjangkau semua kalangan, termasuk kelompok rentan, agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
“Akreditasi perpustakaan menjadi indikator penting bahwa layanan yang diberikan telah sesuai dengan standar nasional. Dengan akreditasi, kita menunjukkan komitmen pada pelayanan profesional, terukur, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpustakaan Nasional, Agus Sutoyo menegaskan, perpustakaan memiliki peran strategis dalam pendidikan dan pembelajaran masyarakat.
“Perpustakaan bukan sekadar tempat pinjam buku. Ia adalah ruang pembelajaran yang wajib disediakan dari pusat hingga desa, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007,” jelasnya.
Menurutnya, perpustakaan di Kabupaten Banggai memiliki potensi besar karena didukung gedung yang representatif dan fasilitas yang mendukung aktivitas kreatif.
“Perpustakaan daerah di Banggai sangat megah dan indah. Tinggal bagaimana dioptimalkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendekatkan literasi,” tambahnya.
Agus juga mendorong pustakawan untuk aktif dalam mengembangkan program yang berbasis inklusi dan pembelajaran sepanjang hayat.
“Kami ingin pustakawan menjadi fasilitator perubahan. Mereka harus siap menjadi penggerak di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Subkoordinator Akreditasi Perpustakaan Wilayah Kalimantan & Sulawesi, Anton Alfian menekankan, pentingnya pemahaman teknis dalam proses akreditasi.
“Melalui sistem SiPAPI, proses akreditasi kini lebih mudah dan terstandar. Kami mendorong perpustakaan dari desa, sekolah, hingga komunitas untuk mulai mengaksesnya,” ujarnya.
Kegiatan Bimtek ini diikuti oleh pengurus perpustakaan dari berbagai jenjang: sekolah, perguruan tinggi, desa, hingga komunitas.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Ingin Bangun Perpustakaan Berbasis Hybrid
Selain materi teknis, peserta juga menerima pembekalan strategi transformasi perpustakaan yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Banggai Cerdas bukan sekadar slogan. Mari kita wujudkan perpustakaan yang aktif, terbuka, dan hadir di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Comments 2