Wabup Sigi: Kurikulum Kebencanaan Wajib Masuk Sekolah

SIGI, theopini.id Wakil Bupati (Wabup), Samuel Yansen Pongi menegaskan, pendidikan kebencanaan wajib menjadi bagian dari kurikulum sekolah di seluruh jenjang, sebagai langkah strategis memperkuat ketangguhan generasi muda menghadapi risiko bencana di daerah yang memiliki kerentanan tinggi seperti Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

“Pada peristiwa itu, Sigi mencatat sekitar 76 ribu pengungsi, lebih dari 400 korban jiwa, dan kerusakan infrastruktur di banyak wilayah. Pengalaman ini mengajarkan kita untuk membangun daerah dengan pendekatan mitigasi yang lebih kuat,” ujar Wabup Samuel saat membuka Seminar Pemulihan Sektor Pendidikan dan Keamanan Sekolah di Desa Bora, Kamis, 11 Desember 2025.

Baca Juga: BNPB Minta Disdikbud Edukasi Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah

Ia menekankan, Pemda Sigi berkomitmen memperkuat perencanaan berbasis pengurangan risiko bencana melalui penerapan konsep bangunan tahan gempa, upaya pertahanan berlapis di kawasan rawan banjir, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Ia juga meminta, Dinas Pendidikan mulai merancang kurikulum kebencanaan yang aplikatif, terstruktur, dan dapat diterapkan mulai dari jenjang SD hingga SMA.

“Jepang telah membuktikan bahwa pendidikan kebencanaan adalah kunci membangun masyarakat yang tangguh,” tegasnya.

Wabup Samuel mengapresiasi berbagai gagasan dalam seminar, termasuk pengembangan taman likuifaksi sebagai pusat edukasi, peningkatan literasi kebencanaan, hingga peluang pemanfaatan hibah perubahan iklim dari luar negeri.

Seluruh rekomendasi ini, kata dia, dipastikan akan menjadi masukan penting dalam penguatan sektor pendidikan di Kabupaten Sigi.

Dengan pelaksanaan seminar tersebut, Pemda Sigi berharap, lahir kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, akademisi, lembaga internasional, dan masyarakat untuk menghadirkan lingkungan pendidikan aman, adaptif tahan terhadap bencana.

Baca Juga: Wabup Banggai Pimpin Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-63

Seminar ini, menghadirkan pakar kebencanaan dari dalam dan luar negeri, termasuk Prof. Mizan dan Prof. Aiko Sakurai dari Kobe University Jepang, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti OPD terkait, NGO, LTKL Kabupaten Sigi, dan Forum Pengurangan Risiko Bencana Sulawesi Tengah.

Diskusi difokuskan pada strategi pemulihan sektor pendidikan pascabencana, serta penguatan keamanan sekolah sebagai bagian dari mitigasi jangka panjang.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar