GORONTALO, theopini.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo menyiapkan intervensi pengembangan komoditas bawang merah, sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi daerah.
Dukungan tersebut, akan mulai diakomodasi melalui alokasi anggaran tahun 2027 untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
“Nanti ini dicatat dan desak saya, jangan tunggu saya ingat. Kalau ada pertanaman sekarang, jangan nanti tunggu panen saya ke sana agar kita bisa merespons kebutuhan pasar karena produksi kita di Gorontalo belum sesuai spek. Tapi itu bisa kita tingkatkan, sebab itu perlu diintervensi oleh pemerintah,” kata Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat memimpin audiensi bersama pelaku usaha, petani, dan distributor komoditas strategis di Ruang Huyula Gubernuran, Jum’at, 26 Juni 2026.
Arahan tersebut, disampaikan sebagai tindak lanjut atas masukan petani dan distributor mengenai masih tingginya ketergantungan Gorontalo terhadap pasokan bawang merah dari luar daerah yang berdampak pada fluktuasi harga di pasaran.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Gorontalo, Faisal Lamakaraka, mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan kualitas komoditas lokal agar mampu bersaing dengan produk dari luar daerah.
“Kita harus berpikir bagaimana kita meningkatkan komoditas lokal agar punya nilai jual yang paling tidak sama dengan barang-barang yang masuk dari luar seperti bawang merah. Kualitasnya paling tidak lokal itu bisa menyamai bahkan kita punya target untuk bisa melebihi hasil dari komoditas dari luar,” ujarnya.
Selain pengembangan bawang merah, pemerintah juga akan menyusun pola tanam cabai yang lebih terencana agar masa panen tidak berlangsung bersamaan di seluruh wilayah.
Langkah tersebut, diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan sehingga harga cabai di tingkat petani tetap stabil.
Di sektor perberasan, Pemprov Gorontalo mendorong modernisasi teknologi penggilingan untuk menghasilkan beras premium dengan biaya produksi yang lebih efisien.
Menurut Faisal, peningkatan kualitas beras lokal menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing produk pangan daerah.
Ia juga mengapresiasi keikutsertaan petani Gorontalo dalam Pekan Nasional (PENAS), yang dinilai membuka peluang bagi petani untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan petani dari berbagai daerah.
Berdasarkan pemantauan pemerintah, harga cabai di tingkat distributor saat ini masih berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Karena itu, pemerintah bersama pelaku usaha akan menyusun strategi untuk menekan disparitas harga di tingkat pengecer.
Sementara itu, untuk komoditas beras dan Minyakita, pemerintah memastikan harga tetap mengacu pada ketentuan pemerintah pusat.
Pemprov Gorontalo juga akan mengusulkan penambahan kuota distribusi Minyakita karena pasokan dari pabrik di Surabaya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar