GORONTALO, theopini.id – Wakil Gubernur (Wagub) Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie meminta pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperketat di seluruh tahapan, mulai dari pemilihan bahan makanan, pengolahan di dapur hingga makanan diterima siswa di sekolah.
“Saya tetap memberikan warning kepada seluruh SPPG. Jangan lengah. Jangankan enam anak, satu anak saja mengalami persoalan pasti akan menjadi sorotan. Apalagi program MBG ini menjadi perhatian masyarakat luas,” tegas Idah saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mulyonegoro, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Kamis, 10 September 2026.
Ia mengatakan, pengawasan keamanan pangan tidak boleh dilakukan secara longgar karena makanan yang disiapkan melalui program tersebut dikonsumsi masyarakat, terutama anak-anak.
Ia meminta kepala SPPG dan mitra tidak hanya menyerahkan tanggung jawab kepada petugas teknis, tetapi turut memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, termasuk kebersihan dapur, penyimpanan, pengemasan dan distribusi makanan.
Permintaan tersebut, disampaikan setelah Idah menerima laporan enam siswa SDN 11 Pulubala mengalami keluhan kesehatan yang diindikasikan berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.
Namun, Idah menegaskan penyebab keluhan tersebut belum dapat dipastikan. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan bersama Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Gorontalo.
“Ini masih praduga. Kita masih menunggu hasil laboratorium yang ditangani langsung oleh Dinas Kesehatan dan BPOM Provinsi Gorontalo. Jadi kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa ini keracunan akibat MBG sebelum ada hasil pemeriksaan,” ujarnya.
SPPG Mulyonegoro yang berada di bawah Yayasan Rumah Inovasi Madani diketahui mengelola sekitar 2.110 porsi MBG.
Pada hari tersebut, menu yang dibagikan terdiri dari nasi, telur ceplok saus kecap, sayur wortel menggunakan laksa tahu serta buah apel.
Selain keamanan pangan, Idah juga menekankan pentingnya pengelolaan menu yang memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.
Khusus kepada ahli gizi, ia meminta setiap menu yang disajikan memiliki rekapan, laporan serta perhitungan angka kecukupan gizi.
“Untuk ahli gizi, saya mohon harus mempunyai rekapan, laporan, dan data menu-menu yang sudah disajikan maupun yang akan disajikan. Misalnya dalam satu minggu menunya apa saja, itu harus tertulis dan disertai angka kecukupan gizinya. Jangan hanya teori, tetapi harus benar-benar diterapkan dalam praktik,” jelasnya.
Menurut Idah, pengawasan yang ketat diperlukan untuk memastikan program MBG tidak hanya memenuhi target jumlah porsi, tetapi juga menjamin makanan yang diberikan aman dan memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.
Tim Satgas MBG Provinsi Gorontalo, kata dia, akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Setiap laporan yang muncul harus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki pelaksanaan MBG dan mencegah persoalan serupa.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari pihak sekolah, beberapa siswa yang mengalami keluhan sebelumnya sempat mengonsumsi makanan dari kantin sekolah sebelum menerima MBG. Sebagian siswa lainnya juga diketahui tidak sarapan dari rumah.
Informasi tersebut turut menjadi bahan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialami para siswa.
Puskesmas Pulubala kemudian melakukan observasi, memberikan penanganan dan obat kepada siswa serta melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Hingga Rabu, 9 September 2026, pukul 14.10 WITA, seluruh siswa yang sebelumnya mengalami keluhan dilaporkan telah pulih dan diperbolehkan pulang.
Pemeriksaan lebih lanjut oleh Dinas Kesehatan dan BPOM Provinsi Gorontalo masih berlangsung. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi dasar untuk memastikan apakah keluhan yang dialami siswa berkaitan dengan makanan MBG atau disebabkan faktor lainnya.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Galvin















