BANGGAI, theopini.id — Anak-anak Suku Loinang di Dusun Tombiobong, Desa Maleo Jaya, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kini memiliki akses pendidikan yang lebih dekat.
Setelah bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan, tiga fasilitas pendidikan jenjang taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) kini telah berdiri di wilayah tersebut.
“No one left behind. Tidak boleh ada satupun yang tertinggal, seperti prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Itu yang kami pegang,” ujar Sekretaris Pimpinan Daerah Aisyiyah Banggai, Nurhaidah, saat mendampingi pejabat Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Kabupaten Banggai yang berkunjung ke Tombiobong, Jumat, 6 November 2026.
Sebelum jembatan gantung dibangun pada 2018, masyarakat Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Loinang yang mendiami dusun tersebut menghadapi keterbatasan akses.
Saat musim penghujan, arus deras sungai yang memisahkan Tombiobong dengan wilayah lain di Desa Maleo Jaya menjadi ancaman bagi warga.
Sungai itu juga menjadi jalur yang harus dilalui anak-anak untuk mengakses pendidikan. Pembangunan jembatan gantung pada 2018 mengatasi satu persoalan, tetapi anak-anak masih harus berjalan kaki sejauh empat kilometer untuk mencapai sekolah.
Melihat kondisi tersebut, Aisyiyah Banggai mulai menjalankan program pemberdayaan masyarakat di Tombiobong. Setelah delapan tahun pendampingan, kini tiga fasilitas pendidikan, masing-masing jenjang TK, SD, dan SMP, telah tersedia bagi masyarakat setempat.
Pendampingan tidak hanya menyasar sektor pendidikan. Aisyiyah Banggai juga berkolaborasi dengan sejumlah pihak, di antaranya JOB Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi, Baznas, dan Pemerintah Kabupaten Banggai, untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Hasil kolaborasi tersebut antara lain tersedianya sarana air bersih dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang digunakan untuk menerangi rumah-rumah warga.
Di sektor ketahanan pangan, Aisyiyah Banggai memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk membudidayakan sejumlah komoditas pertanian.
“Untuk mendukung ketahanan pangan, Aisyiyah melatih warga membudi daya tanaman jagung, kacang tanah, dan bawang merah,” kata Nurhaidah.
Atas kerja pendampingan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas memberikan penghargaan SDGs Action Awards kepada Aisyiyah Banggai pada 2024.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, mengatakan keberhasilan Aisyiyah menjalankan program pemberdayaan tidak terlepas dari upaya membangun kepercayaan masyarakat.
Dia juga mengapresiasi kolaborasi Aisyiyah Banggai, Pemerintah Daerah Banggai, pihak swasta, dan instansi terkait dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat Tombiobong.
“Tanpa adanya kerja sama, ini sulit terwujud,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Banggai, Pupung Diliyanto, berharap kunjungan Kementerian PPN/Bappenas ke Tombiobong dapat membantu mengakomodasi kebutuhan dasar masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Kami pun hadir di sini untuk mengidentifikasi kebutuhan lain yang belum terpenuhi,” kata Pupung.
Dalam kunjungan tersebut, Pemerintah Daerah Banggai melalui dinas terkait juga menyerahkan sejumlah bantuan pangan dan alat tulis kepada masyarakat.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Helmi Liana














