Populasi Ternak Babi di Parimo Menurun Drastis Akibat ASF

PARIMO, theopini.idDinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mengatakan, populasi ternak babi di wilayah setempat, menurun drastis akibat wabah virus Africa Swine Fever (ASF) yang menyerang dalam tiga bulan terakhir.

“Dari populasi 35 ribu ekor pada 2022, diperkirakan tinggal 10-15 persen ternak babi yang masih bertahan hidup saat ini,” kata Kepala Bidang Pembibitan dan Produksi, I Wayan Purna, di Parigi, Kamis, 14 Juni 2023.

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Ketersediaan Ternak Sapi di Parimo Melimpah

Menurutnya, para peternak lebih memilih langsung memusnahkan ternak babinya, meskipun masih dalam keadaan hidup.

Peternak juga berpikir tak ada harapan untuk ternak babinya, karena bila dipertahankan harus mengeluarkan biaya pakan, dan obat-obatan.

Selain itu, pasaran ternak babi dalam kondisi saat ini, sangat sulit. Sebab, pembeli juga khawatir akan tertular virus ASF.

“Padahal kami sudah mensosialisasikan, tidak mengakibatkan apa-apa bila babi ini dikonsumsi,” imbuhnya

Kemudian, kata Wayan Purna, peternak juga harus mengeluarkan biaya ketika ternaknya mati, sebesar Rp200 ribu per ekor untuk jasa penguburan.

“Makanya para peternak, memilih langsung memusnah seluruh ternaknya ketika mengetahui ada satu ternak yang mati,” ujarnya.

Saat ini, virus ASF masih terus menyerang ternak babi, khususnya di Kecamatan Torue, Kecamatan Balinggi dan Kecamatan Sausu.

Upaya peningkatan populasi, lanjutnya, tidak dapat dilakukan sesegera mungkin. Namun bila ingin cepat memutus siklus virus ASF, harus dilakukan pemusnahan massal di wilayah terdampak.

“Setelah dimusnahkan, baru dilakukan penyemprotan disinfektan, dan pembersihan kandang secara berkala, kurang lebih enam bulan,” tukasnya.

Selanjutnya, dapat dilakukan pembibitan, setelah proses kajian terlebih dahulu. Sehingga, dapat dipastikan apakah virus ASF masih ada di wilayah terdampak itu.

Baca Juga: Hasil Laboratorium, Ternak Mati Mendadak di Parimo Positif Virus ASF

Apabila berjalan dengan baik dalam enam bulan ke depan, baru bisa dilakukan pembibitan dalam jumlah banyak.

“Karena memang, ada juga peternak yang mempertahankan ternaknya, berpikir babinya masih sembuh dari sakitnya. Padalah sudah tidak mungkin,” pungkasnya.

Komentar