Pro Kontra PT ATI di Parimo, Kebun Warga Ditawar Rp 12 Ribu per Meter

PARIMO, theopini.id Rencana pembebasan lahan perkebunan warga di Desa Siniu, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah oleh PT Anugerah Teknik Industri (ATI) menuai pro kontra.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, pro kontra tersebut, dipicu tawaran harga dari pihak perusahaan yang dianggap sangat rendah oleh sejumlah pemilik lahan perkebunan, sebesarnya Rp12 ribu per meter.

Baca Juga: Warga Parimo Tolak Aktivitas PT CPM di Hulu Sungai Taopa

Bahkan, awalnya hadirnya PT ATI mendapatkan penolakan warga, sebab khawatir aktivitasnya akan mencemari lingkungan.

Penolakan tersebut, disampaikan dengan aksi-aksi pemasangan sejumlah spanduk penolakan dibeberapa titik, yang diunggah ke media sosial Facebook.

Meskipun harga dinilai rendah, namun tak sedikit pemilik kebun yang bersepakat atas tawaran PT ATI. Mereka pun, ikut memasang spanduk yang menyatakan menerima kehadiran perusahaan tersebut.

Selain itu, para pemilik lahan yang pro mempersilahkan perusahaan memulai aktivitasnya, meskipun proses pembayaran belum dilakukan.

Kondisi ini, memicu ketegangan antara masyarakat yang pro dan kontra. Ditambah lagi timbul kesan, pemerintah desa dan kecamatan tak memihak kepada masyarakat yang belum bersepakat dengan penawaran harga PT ATI.

Akhirnya, sejumlah pemilik kebun dan masyarakat yang tak bersepakat menolak tawaran PT ATI, mengadukan apa yang mereka alami ke para wakil rakyat di DPRD Parimo, pada Jum’at pagi, 23 Juni 2023.

“Kedatangan masyarakat ke DPRD, karena tak bisa lagi berkoordinasi dengan Camat Siniu dan kepala desa. Spanduk memuat penolakan yang terpasang, dicabut oleh aparat pemerintah. Seharusnya tidak seperti itu,” kata salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Siniu, Mubin Abidin, saat ditemui, Jum’at sore.

Dia yang ikut hadir bersama sejumlah masyarakat ke DPRD, menyatakan sikap tak setuju dan menolak penetapan harga secara sepihak oleh PT ATI, senilai Rp 12 ribu per meter.

Sebab, merasa dirugikan dan tak adil serta memutus harapan hidup masyarakat, yang bersumber dari hasil perkebunan kelapa.

Kemudian, masyarakat sangat menyesalkan sikap Camat Siniu, Kades Siniu, dan Kades Sayogindano bersama perangkatnya, yang secara terang-terangan memihak dan ikut mendukung penetepan harga tersebut.

Masyarakat juga sangat menyesalkan sikap Camat, Babinkamtimbas dan Kades Siniu mendatangi dan diduga mengintimidasi seorang pemuda Desa Siniu yang memasang spanduk penolakan.

“Dalam situasi ini, saya sadari akan dianggap mengompori masyarakat yang tak setuju. Padahal mereka sendiri yang selalu datang ke saya,” tukasnya.

Dia berharap, pertemuan yang akan diagendakan DPRD, memberikan solusi serta titik terang atas apa yang dialami para pemilik lahan yang tak menerima tawaran harga PT ATI.

“Sebenarnya ini, tak ada keributan. Hanya saja, cara menyikapinya. Harapan kami ke DPRD, agar persoalan ini bisa teratasi,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang Pemuda Desa Siniu, Zikran mengaku, sangat prihatin dengan kondisi desanya saat PT ATI hadir.

Apalagi, masyarakat, baik yang pro maupun kontra masih memiliki ikatan persaudaraan, dan semestinya dapat menyelesaikan persoalan ini tanpa ketegangan.

Baca Juga: Simak Rangkuman Penyebab PT Trio Kencana Ditutup

“Saya memang tak memiliki lahan di lokasi yang akan dibebaskan itu, dan tidak menyatakan sikap setuju atau tidak setuju akan hadirnya PT ATI. Namun, pro kontra karena dipicu adanya perbedaan pendapat, menimbulkan kekhawatiran,” ujarnya.

Dia mendorong, Pemerintah Daerah (Pemda) Parimo untuk segera menangani persoalan tersebut, agar dapat meredam berbagai pemicu pertikaian antara kedua belah pihak.

Komentar