PARIMO, theopini.id – Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, launching sistem akomodasi terpadu donor darah serta kegiatan aksi donor darah bagi ibu hamil dan melahirkan.
Kegiatan tersebut, diinisiasi Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, berkolaborasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Parimo.
Baca Juga: Ibu Hamil Wajib Siapkan Empat Calon Pendonor Darah
“Kementerian klKesehatan (Kemenkes), mencatat Angka Kematian Ibu (AKI), di 2022 berkisar 183 per 100 ribu kelahiran,” ungkap Sekretaris Dinkes Parimo, Astar Baturangka, di Parigi, Rabu 16 Agustus 2023.
Dia mengatakan, jumlah AKI di Sulawesi Tengah mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir, antara 2018 hingga 2022, dari 207 per 100 ribu kelahiran hidup dengan jumlah kematian ibu 109 kasus 2021.
Namun, AKI menjadi 128 per 100 ribu kelahiran hidup pada 2022 dengan jumlah kematian ibu 67 kasus.
Data Kabupaten Parimo, kata dia, AKI melahirkan pada 2022, tercatat 11 kasus, dan per Agustus 2023 tercatat dua kasus.
“Insya Allah tahun ini bisa berkurang, tidak bertambah lagi kasus serupa,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu penyebab kematian ibu melahirkan yakni, adanya pendarahan.
Salah satu cara menurunkan angka kematian ibu hamil melahirkan dengan lakukan donor darah.
Bahkan, kebutuhan darah di rumah sakit Kabupaten Parimo, pada 2022 mencapai 5.407 stok, dan ketersediaan hanya 4.379 stok.
“Itu masih jadi kekurangan kita, sekitar 1.028 stok darah,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Beppelitbangda Parimo, Irwan menjelaskan, sistem akomodasi terpadu satu darah, merupakan aplikasi yang memfasilitasi ketersediaan darah.
Sistem tersebut, sebagai upaya menekan angka kematian ibu melahirkan, akibat keterbatasan darah.
Mengingat, darah yang dibutuhkan setiap hari di wilayah Parimo, berkisar antara 50 hingga 100 kantong.
“Nah, kalau ini tidak tersedia otomatis pelayanan akan terganggu dan itu menyebabkan kematian,” jelasnya.
Baca Juga: 10 Kecamatan Ditarget Penuhi Kebutuhan Stok Darah di Parimo
Dia menyebut, rata usia pada kasus ibu meninggal melahirkan 20 sampai 35 tahun, yang sangat berpengaruh terhadap angka harapan hidup.
“Jadi kami Bappeda tidak boleh berdiam diri dengan keadaan seperti ini, maka dari itu kita mengundang Dinkes, PMI, agar bagaimana ketersediaan darah selalu ada,” pungkasnya.







Komentar