Kembangkan Alat Deteksi Dini Kanker, Peneliti UGM Manfaatkan Dana Riset LPDP

JAKARTA, theopini.id Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), Dewi Kartika, memanfaatkan dana riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk mengembangkan alat deteksi dini kanker nasofaring.

Pengembangan ini, mendapatkan pendanaan total lebih dari dua miliar rupiah sejak fase purwarupa hingga terciptanya alat berjuluk NPC Strip A ini.

Baca Juga: Anis Byarwati Ingatkan Pemerintah Lebih Realistis Susun RAPBD 2024

“Alat tersebut, dirancang untuk bisa mendeteksi kanker nasofaring di fase lebih dini dengan durasi yang singkat. Bahkan, menjadi piranti pertama di dunia yang praktis, akurat, selain tentunya ekonomis,” ujar Dewi, di Jakarta, dikutip dari laman Kemenkeu, Selasa, 22 Agustus 2023.

Dewi menuturkan, kanker nasofaring umumnya terlambat disadari. Faktor utamanya, arena kanker ini tidak memiliki gejala spesifik.

Gejala yang umum itu, seringkali menjadi alasan orang tidak merasa memiliki urgensi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut atas risiko NPC.

“Gejalanya itu, cuma seperti pusing yang berkelanjutan, pilek-pilek berkelanjutan. Sehingga pasien datang, stadiumnya sudah lanjut. Sudah ada benjolan di leher,” ujarnya.

Ia menambahkan, alat deteksi cepat tersebut punya mekanisme yang ringkas. Bahkan, tidak sampai sepuluh menit untuk bisa mendapatkan hasil.

Dewi mengatakan, diperiksa adalah darah yang diambil dari ujung jari seseorang, untuk dijadikan sampel dan kemudian diteteskan pada NPC Strip A.

“Reaksi alat terhadap sampel darah itu, nantinya akan menunjukkan hasil tesnya,” jelasnya.

Selain pengembangan alat tersebut, LPDP telah mendanai ribuan riset serupa. Sepanjang 2022, dana yang disalurkan mencapai lebih dari 1,6 triliun rupiah, digunakan untuk lebih dari 1800 riset di berbagai bidang.

Baca Juga: Pemprov Sulteng Terima Penghargaan dari Kemenkeu

Diketahui, Nasofaring atau nasopharyngeal cancer (NPC), ialah kanker yang menyerang area nasofaring, salah satu bagian tenggorokan yang terletak di belakang rongga hidung dan di balik langit-langit mulut.

Meski secara global tingkat kejadiannya terbilang rendah, di Indonesia tercatat ada lebih dari 19 ribu kasus pada 2020. Angka ini, menjadikannya berada di urutan kelima kasus kanker tertinggi di tanah air.

Komentar