Ungkapan Hati Kepsek Negeri SATAP 1 Ampibabo yang Tak Bisa Kembali ke Sekolah  

PARIMO, theopini.id Niat hati ingin meningkatkan kualitas pendidikan di SMP Negeri Satu Atap (SATAP) 1 Ampibabo, Desa Tanampedagi, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, harus diurungkan Jamil.

Jamil, dilantik sebagai Kepala Negeri SATAP 1 Ampibabo, pada pertengahan 2023, tak bisa lagi kembali ke sekolah, karena terpaksa harus mengikuti keinginan masa pedemonstrasi yang melakukan aksinya, pada Rabu, 17 Januari 2024.

Baca Juga: SMP Negeri 1 Parigi Raih Penghargaan Sekolah Aktif Literasi Nasional

Ia pun menilai keberadaannya yang tak lagi diinginkan di sekolah tersebut, akan mengganggu proses belajar dan mengajar serta mengancam keselamatan para siswa.

“Saran dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) juga begitu. Saya jangan dulu kembali ke sekolah,” kata Jamil, ditemui, Jum’at, 19 Januari 2024.

Aksi demontrasi yang digelar sekelompok warga setempat, bermula dari inisiatifnya mengusulkan guru mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, TIK, BK dan Seni Budaya ke Bidang Guru dan Tenaga Pendidikan (GTK) Disdikbud Parimo, jelang seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK) pada 2023.

Sebab, SMP Satu Atap (SATAP) 1 Ampibabo hanya memiliki guru mata pelajaran agama, IPA, Penjaskes dan Prakarya. Selain itu, tenaga honorer yang digaji melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Bidang GTK saat koordinasi menyahuti usulan itu, meminta saya membuat usulan,” ujarnya.

Sayangnya ketika akan mengusulkan, Jamil terlambat karena aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) telah terkunci.

Bahkan, surat pengusulan guru mata pelajaran tak jadi diberikan, dan tak pula ditandatanganinya. Karena, Jamil menyadari upayanya tak akan membuahkan hasil.

“Inilah yang menjadi pokok persoalan, saya dinilai tidak melakukan musyawarah lebih dulu. Padahal, usulan guru mata pelajaran itu belum terjadi,” tuturnya.  

Penyebab lainnya, ketika Jamil akan menerima guru honorer mata pelajaran matematika. Ternyata niatnya disalah artikan.

Ada yang menilai, Jamil ingin mengeluarkan tenaga honorer yang telah lebih dulu mengabdi di SMP SATAP 1 Ampibabo.

“Memang yang mendaftar itu, guru sejarah. Tapi karena saya tahu, mata pelajaran IPS sudah ada. Makanya, saya tawarkan mengajar Matematika saja. Itu pun sudah saya sampaikan ke bagian kurikulum,” jelasnya.

Sekelumit persoalan yang tak terkonfirmasi dengan baik menurut Jamil, akhirnya menjadi pemicu persoalan. Berujung aksi demostrasi di depan halaman sekolah.

Kemarahan sekelompok warga, menyebabkan kaca jendela pecah, pagar mini di halaman sekolah terbakar.

Tapi Jamil, tak meninggalkan masa pedemostrasi kala ini. Ia memberanikan diri menghadapi kemarahan warga. Bahkan meminjam alat pengeras suara untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

“Saya mau jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi. Ini persoalan internal, sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik-baik,” imbuhnya.

Untungnya, tokoh adat dan tiga anggota Babinsa TNI menyelamatkannya dari akuman para pedemonstrasi kala itu.

Sikatnya, usai demonstrasi berhasil dibubarkan, Jamil dan Koordinator Lapangan (Korlap) masa aksi dipertemuan di kantor Polisi setempat.

“Di hadapan Polisi saya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Korlap itu pun telah memahami persoalan yang sebenarnya. Kemudian berdamai, dan dia bersedia memperbaiki kerusakan akibat demosntrasi itu,” ungkapnya.

Namun nasi telah menjadi bubur, Jamil tetap saja tak bisa kembali  ke sekolah. Pasca peristiwa itu, ia hanya melewati hari-harinya di rumah. Sembari menunggu hasil penanganan tim dari Disdikbud Parimo.

Baca Juga: Oknum Kepsek Diduga Terlibat Asusila di Parimo Dinonjobkan

Ia pun berharap, bisa kembali melaksanakan tanggung jawabannya, serta video demostrasi yang terjadi kala itu, tak lagi disebar ke media sosial.

“Banyak kalimat yang tak enak dibaca di media sosial, saya harap tidak disebarkan lagi. Karena seluruh persoalan telah sama-sama di selesaikan di Kepolisian saat itu,” pungkasnya.

Komentar