Menko PMK: Indonesia Emas 2045, Waktunya Generasi Muda yang Memimpin

JAKARTA, theopini.id Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan, Indonesia Emas 2045, pemimpin bangsa adalah anak-anak muda kalangan generasi milenial dan Generasi Z di masa sekarang.

“Generasi muda saat ini, lebih unggul dibandingkan generasi pemimpin pada usia yang sama dengan mereka,” kata Menko PMK, Muhadjir Effendy  saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-77 Tahun “Bakti HMI Untuk Indonesia”, di Jakarta Pusat, Selasa, 26 Maret 2024.

Baca Juga: Menko PMK: Limbah Sampah Plastik Ancaman Kelestrian Bumi

Menurutnya, hal itu dikarenakan kemudahan mengakses informasi dan pengetahuan, serta paparan teknologi yang mumpuni sejak dini.

“Karena itu kita harus menyerahkan masa depan Indonesia ini kepada yang muda-muda. Itu suatu titah sunatullah yang tidak bisa kita hindari,” ujarnya.

Indonesia Emas 2045 tinggal menyisakan waktu yang sebentar. Olehnya, generasi muda harus menyiapkan diri sebaik-baiknya menyongsong masa emas negara Indonesia.

Generasi muda, kata Menko PMK, harus menyiapkan diri dengan cara yang produktif, yaitu dengan mengasah intelektual, mencari skill kemampuan baru yang bisa berguna dalam profesi, serta harus melek dalam urusan politik

“Tahun 2045 itu tinggal 22 tahun, dan kalian usianya nanti sekitar 40. Usia yang matang bagi generasi produktif dan intelektual. Jadi kalian harus menyiapkan betul apapun pilihan profesi kalian,” ujarnya.

“Saya rasa adik-adik ini yang menjadi tanggung jawab kalian. Jadi saya titip kepada pimpinan HMI untuk diarahkan betul generasi muda ini untuk siap menghadapi Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Baca Juga: Menko PMK Dorong Penuntasan Kemiskinan Ekstrem hingga Stunting di Berau

Ia berpesan agar seluruh kader HMI, untuk menjaga keseimbangan antara keindonesiaan dan keislaman. Menurutnya, keseimbangan dua hal tersebut adalah pandangan pokok dari perjuangan HMI.

“HMI harus menjaga keislaman dan keindonesiaan dengan dasar sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Inilah pandangan pokok yang harus kita pahami. Karena itu HMI harus berada di titik tengah,” pungkasnya.