Respons Cepat Lintas Sektor Jadi Andalan Penanganan Banjir Bandang di Donggala

DONGGALA, theopini.idPenanganan bencana banjir bandang yang melanda Desa Wombo Kalonggo dan Wombo Induk, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah menunjukkan pentingnya respons cepat dan koordinasi lintas sektor.

Sejak bencana terjadi pada 27 Mei 2025, berbagai instansi pemerintah, lembaga vertikal, hingga relawan masyarakat bergerak bersama dalam operasi tanggap darurat.

Baca Juga: Dua Korban Banjir Bandang Wambo Ditemukan Tewas, Operasi SAR Resmi Ditutup

Status Tanggap Darurat ditetapkan oleh Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, pada 28 Mei 2025 untuk masa 14 hari, setelah laporan awal diterima oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat kunjungan kerja di Kabupaten Buol.

Tak menunggu waktu lama, instruksi gubernur segera ditindaklanjuti oleh BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dengan mengaktifkan posko komando, dan mengoordinasikan berbagai pihak terkait.

Kepala BPBD Sulawesi Tengah, Akris Fattah, menyatakan kecepatan dan kekompakan seluruh unsur menjadi faktor kunci dalam respons bencana kali ini.

“Arahan Gubernur sangat jelas: koordinasi dan kolaborasi. Kita bergerak cepat dengan dukungan berbagai pihak untuk memastikan warga terdampak tertangani dengan baik,” katanya, Jum’at, 30 Mei 2025.

Delapan langkah cepat yang telah dilakukan meliputi:

  1. Pendiran Pos Komando Tanggap Darurat dan penyediaan peralatan dasar seperti light tower dan bronjong.
  2. Penyaluran bantuan logistik dari Pemprov Sulteng, Pemkab Donggala, dan Kementerian Sosial.
  3. Evakuasi korban hilang oleh tim gabungan dari BPBD, Basarnas, Tagana, TNI, Polri, dan warga. Dua korban ditemukan meninggal dunia.
  4. Penggunaan alat berat dari Pemkab Donggala untuk membuka akses dan membersihkan material banjir.
  5. Bantuan dari instansi vertikal, termasuk pemasangan bronjong dan jembatan darurat Bailey sepanjang 30 meter.
  6. Pembersihan dan normalisasi jalur air serta instalasi layanan air bersih.
  7. Dapur umum yang terus melayani kebutuhan konsumsi warga terdampak.
  8. Pelayanan kesehatan terpadu dari dinas kesehatan, universitas, lembaga keagamaan, dan relawan.

Baca Juga: Banjir Bandang di Donggala: Satu Korban Ditemukan Meninggal, Satu Lagi Masih Dicari

Sementara itu, Gubernur Anwar Hafid menyampaikan duka mendalam atas korban jiwa dan menegaskan, pendekatan penanganan bencana di Sulawesi Tengah akan terus ditingkatkan.

“Penanganan bencana bukan sekadar teknis, tapi soal tanggung jawab moral kita terhadap sesama. Semua pihak harus bersinergi, agar pelayanan kebencanaan benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

Komentar